TALAK
Ayahku meninggal hari jumat pagi jam empat lewat lima puluh lima di usianya yang masih muda, lima puluh tujuh tahun. Dan setelah ayah meninggal, hari-hariku menjadi semakin buruk. Aku menyalahkan diriku sendiri atas meninggalnya ayah. Dua hari setelah ayah di kuburkan aku pergi meninggalkan rumah. Tak kupedulikan bagaimana istriku dan keluargaku mencemaskan kepergianku. Tak kuperdulikan semua nasihat yang mereka sampaikan padaku bahwa takdir adalah ketentuan Allah. Kepergianku hanya punya satu tujuan, aku ingin menyendiri. Dan aku sengaja tidak membawa handponeku, agar aku tidak dihubungi.
Aku menyesal mengapa aku terlambat selesai menjadi dokter. Aku menyesal mengapa aku tak mampu menyembuhkan ayahku, padahal aku juga seorang dokter. Mengapa waktu itu tidak aku terima saja tawaran pak Dimas. Ah, aku menyesal betapa tak bergunanya aku. Padahal ayah menginginkanku menjadi dokter agar aku dapat mengobatinya. Aku sengaja mengambil pendidikan dokter adalah untuk dirinya. Lalu jika sekarang ayah sudah tiada, buat apa lagi aku menjadi dokter. Aku menyesal, sungguh aku menyesal, betapa tak bergunanya diriku.
Kuratapi diriku dikesendirian ini sambil menangis, aku belum bisa menerima kepergian ayahku yang tiba-tiba. Belum ada baktiku padanya. Aku yang dulu hanya bisa membuatnya repot sebagai anak. Aku yang bersikeras memutuskan untuk menempuh pendidikan dokter di Makassar hingga jauh darinya. Padahal aku bisa saja mengambilnya di pulau jawa.
Ayah yang begitu sabar mendidik prilakuku yang seringkali kasar padanya. Ayah yang menjadi sosok pahlawanku. Ayah yang begitu tegar mencari nafkah. Ia habiskan masa hidupnya mencari nafkah agar bisa melihat aku tumbuh menjadi laki-laki yang berguna. Ayah yang selalu berpesan agar aku tidak menjadi seperti dirinya. Ia adalah ayah yang ingin melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang sempurna pendidikannya hingga ke jenjang kuliahan.
Ah, ayahhh.. kenapa engkau begitu cepat pergi meninggalkan aku. Tidak bisakah ayah menunggu sebentar hingga aku benar-benar telah selesai dan segera pulang ke rumah. Tidak bisakah ayah menunggu??ah,, Ayahhh..
Tak terasa derai air mataku mengalir deras. Aku disini duduk mendekapkan kedua lututku di bawah pohon besar ini. Ternyata tanpa sadar ku melangkahkan kaki, aku sudah berada di puncak bogor. Aku duduk sendiri di perkebunan teh ini, di daerah gunung mas. Kutatap langit senja kemerahan diatas kota bogor ini. Disini sepi, hanya ada suara kelelawar sore yang kegirangan menyambut malam.
Disaat perenunganku yang cukup lama itu, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggungku dari arah belakang. Aku menoleh ke arahnya, yang ternyata pak Dimas. Entah kenapa aku seperti pernah mengalami kejadian persis seperti ini, namun aku tidak tau dimana. Saat pak Dimas muncul, kali ini aku tidak kaget sama sekali. Karena sejak ayah meninggal, ia sudah muncul tiga kali. Pertama saat ayah dimandikan, ia berdiri mematung memperhatikan kami. Kedua saat ayah dimakamkan, ia juga berdiri mematung di pojokan area pekuburan. Ketiga saat aku sedang membeli tiket kereta di station kota saat hendak ke bogor. Kulihat ia mengikuti langkahku, tapi tak kupedulikan ia, dan akupun tetap melangkah menuju ruang tunggu.
Kini sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya di kehidupanku. Aku sudah pasrah menerima kenyataan bahwa ia adalah temanku. Ia yang selalu mendampingiku disaat aku sedang sendiri. Dan kini aku telah hanyut dalam perkataannya bahwa Tuhan tidak adil padaku. Ia berkata, ’sebagaimana Tuhan telah mengecewakan dirimu, maka apa lagi yang kamu harap dariNya?’. Maka seketika akupun tenggelam ke dalam arus deras pelampiasan seorang hamba. Setelah itu, Ia membimbingku ke jalan yang belum pernah aku lalui sebelumnya. Jalan yang dulu aku begitu membencinya, namun kali ini aku terpaksa, atau kalo bisa dikatakan sebagai sebuah kebutuhan, maka akupun melaluinya.
-o-
Sudah tiga bulan aku meninggalkan rumah. Tanpa menitipkan kabar sedikitpun. Akupun tidak tau bagaimana keadaan istriku nisa. Bagaimana kesehatannya, kehamilannya, aku juga tidak tau apa ia masih di Jakarta atau jangan-jangan sudah kembali ke Makassar.
Dalam rentan tiga bulan itu, hidupku menjadi kelam. Aku hidup menjadi seorang laki-laki yang akrab dengan rokok dan alkohol. Tak kupedulikan penampilanku yang kini compang camping. Rambut dan jenggot yang lebat kini menjadi penampilan khas diriku. Aku tak pernah mempedulikan apa yang dikatakan orang-orang pada diriku. Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan pak Dimas. Bahwa dulu ia juga pernah seperti ini saat ia kehilangan anaknya, Rahmah. Dan katanya setelah ia melampiaskan semua kepedihannya, perasaannya menjadi plong dan merasa bahagia. Dimas Setiawan menjadi satu2nya temanku kini. Tidak ada satupun manusia yang mau mendekatiku.
Aku hidup dari jalan ke jalan. Setelah uangku habis, aku sudah tidak tau kemana aku harus pergi jika aku ingin makan. Namun belakangan, ada saja orang baik yang lewat dan melemparkan uangnya padaku. Dari uang-uang itulah aku bertahan hidup. Sekalipun begitu, aku merasa bahagia, karena ada Pak Dimas yang menemaniku. Aku memiliki duniaku sendiri. Aku dan pak Dimas sering tertawa lepas di pinggir jalan. Ada saja topik yang kami bicarakan.
Hingga suatu hari, datang dua orang berpakaian seragam mendekatiku. Ia dengan tangan kasarnya menekuk tanganku ke belakang lalu menjatuhkan diriku ke tanah. Aku mencoba melawannya karena aku pikir aku tidak bersalah, kenapa aku tiba-tiba ditangkap dan diperlakukan seenaknya. Namun usahaku sia-sia, tangannya begitu besar dan kasar. Ia begitu kuat menggenggam tanganku. Seandainya saja ia tidak berdua, mungkin aku bisa saja melawannya.
Tubuhku yang sudah tidak berdaya kemudian mereka seret ke dalam mobil box yang sudah terbuka tutup belakangnya. Dan aku dimasukkan ke mobil itu. Ternyata di dalam mobil ini terdapat dua orang lagi temannya yang sedari tadi sudah menunggu disini. Kini, aku tak tau akan dibawa kemana diriku ini.
Tak berapa lama kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan yang tidak kukenali. Dalam keadaan tangan terikat, aku diseret kembali menuju sebuah ruangan. Mereka memaksaku untuk tidur di sebuah ranjang yang kasurnya sudah tidak tidak empuk lagi. Mereka kemudian membuka ikatanku. Dan kupikir, ini adalah kesempatan untuk kabur.
Setelah mereka melepas ikatanku, dengan sigap aku mencoba menerobos tidak kurang tiga orang yang mengelilingiku, aku mencoba lari. Namun sia-sia, tiba-tiba mendarat bogem mentah di kepalaku. Seketika pandanganku berkunang-kunang. Dalam keadaan seperti itu, seseorang mendekat mengenakan pakaian berwarna putih menusukan jarum ke pantatku. Setelah itu, aku pingsan tak sadarkan diri.
-o-
Setelah aku bangun dari tidur panjangku, yang aku juga tidak tau sudah berapa lama, kuperhatikan sekelilingku. Disini ada tidak kurang delapan orang berpenampilan seperti diriku. Tiga orang diantaranya kulihat tangan dan kakinya dalam keadaan terikat di antara besi-besi kasurnya itu. Aku mencoba bangun, namun sia-sia, ternyata mereka mengikat tangan dan kakiku. Aku tak bisa bergerak.
Salah satu dari mereka kemudian mendatangiku. Kulihat penampilannya sedikit lebih baik dari yang lain. Ia mengenakan kaca mata dan semacam topi pramuka yang sudah kumel. Sepertinya ia orang yang berpendidikan. Dari penampilannya mungkin usianya sekitar tiga puluh tahunan. Orang itu kemudian duduk bersila di lantai di samping kepalaku.
”pak, pak, dimana kita sekarang?”tanyaku padanya.
”ssttt,,jangan terlalu berisik, nanti ketahuan. Kita sedang dalam penyamaran di daerah markas musuh”katanya pelan sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
”maksud anda pak?”
”sebenarnya aku adalah seorang jendral, dan aku sengaja datang kemari untuk ditangkap agar aku dapat mengetahui semua kelemahan-kelemahan musuh”katanya pelan.
”dan kamu, setelah kita keluar dari tempat ini, kamu harus menjadi anak buahku”nadanya terdengar begitu serius. Ia mengatakan hal itu sambil menatap mataku dalam.
Setelah itu kami berdua terdiam. Kulihat orang itu juga hanya menatap langit-langit ruangan ini.
Rasa panasaranku pun muncul, kulihat juga langit-langit yang dilihat orang itu. ”ada apa pak?”
”ssttt,, kau tidak dengar. Pasukanku sedang menyusup di atas langit-langit plapon ruangan ini. Mereka mengendap-ngendap mencari kesempatan untuk menyelamatkan aku”.
Kuperhatikan baik-baik plapon itu, namun aku tidak mendengar suara apapun dari sana. Kutatap lagi orang itu baik-baik, ia masih menengadahkan wajahnya ke atas dan tidak bersuara sedikitpun. Sebegitu seriusnya ia menatap langit-langit hingga air liurnya menetes. ”benarkah apa yang dikatakannya?”pikirku.
Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara decit pintu besi ruangan ini. Lalu masuk dua orang laki-laki mengenakan pakaian putih-putih. Pakaiannya seperti pakaian perawat. Mereka lalu menuju ke arahku.
”Hei Markus, ngapain kamu disini, kembali ke tempat tidurmu!!”kata salah seorang dari mereka. Orang itu lalu memaksa laki-laki yang tadi disampingku yang baru kutau bahwa ternyata bernama markus, untuk berdiri dan langsung menyeretnya kembali ke tempat tidurnya.
Salah seorang lagi kemudian melepaskan ikatanku.
”pak Harun, sudah saatnya pindah ruangan”katanya.
Aku pun hanya terdiam, aku tidak mengerti apa maksud perkataannya. Sambil ia melepaskan ikatanku yang terakhir di kaki, kuberanikan diri bertanya, ”dimana ini sebenarnya pak?”
Orang itu kemudian menatapku, dia menghentikan sejenak pekerjaannya, kemudian berkata ”pak Harun, anda ada di rehabilitasi penyakit kelainan jiwa Rumah Sakit Grogol Jakarta Barat”
”apaaa??”pekikku kaget.
-o-
Hari ini genap satu bulan aku berada disini, di Rumah Sakit Jiwa Grogol. Beberapa minggu yang lalu seluruh keluargaku datang kesini menjengukku, termasuk istriku nisa. Saat pertama kali pertemuanku dengannya, aku tak berani menatap wajahnya. Bahkan saat ia menujukkan padaku seorang bayi kecil nan mungil yang ia bilang bahwa bayi itu adalah anakku, aku tak berani menatapnya. Betapa malunya aku padanya. Dan aku tidak ingin memiliki seorang anak yang mempunyai ayah orang gila. Dan hari ini, rencananya mereka akan menjengukku kembali, termasuk istriku nisa.
Aku belum diizinkan dokter untuk keluar dari rumah sakit ini karena katanya, jika penyakitku kambuh, aku masih sering berteriak-teriak. Dan memang aku berteriak jika sosok yang bernama Dimas Setiawan muncul lagi dihadapanku.
Dokter yang merawatku bernama dr. Farid, beliau orangnya baik. Ia adalah seorang dokter spesialis kelainan jiwa. Dari dialah aku jadi mengetahui bahwa aku mengidap penyakit yang benama skizofrenia. Ia mendiagnosaku demikian berdasarkan alloanamnesis dari istriku, Nisa. Nisa menceritakan semua yang aku alami pada dokter Farid. Dan dokter mengatakan bahwa Dimas Setiawan adalah sosok halusinasi yang menetap dalam diriku.
Dan hingga hari ini, bahkan semalam, aku masih menjumpai Dimas Setiawan. Aku belum bisa benar-benar membuat ia lenyap dari hidupku. Kalaupun aku tidak menatapnya, maka ia hanya bersuara di telingaku. Dan suaranya terdengar begitu keras dan jelas hingga aku tidak bisa tidur. Ia selalu menerorku kapan saja. Dan aku tidak bisa memprediksi kapan ia akan muncul. Terakhir, bisikannya yang begitu mengganggu adalah bahwa ia akan benar2 pergi dari hidupku jika aku mau menceraikan istriku.
Sungguh pilihan yang sulit. Aku tidak berani mengatakan hal ini pada dr. Farid, karena pak Dimas mengancamku. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan pergi dariku selamanya jika aku bertindak hal-hal yang bodoh. Termasuk menceritakan hal ini pada dr. Farid. Maka setiap kali aku berhalusinasi, aku selalu berusaha mengusirnya. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Menyuruhnya pergi dari hidupku.
-o-
Hari ini, memasuki bulan ketujuh aku berada dalam rehabilitasi. Kini aku sudah ditempatkan di ruangan yang hanya berisi dua orang. Di ruangan ini aku lebih merasa tenang. Sebab jika lebih lama lagi aku berada di ruangan yang kemarin, yang satu ruangan berisi dua belas orang, maka aku bisa tambah stress.
Sore ini aku duduk termangu melamun sambil menghisap sepuntung rokok. Kutatap kosong lapangan diluar dari balik jeruji jendela. Ini batang rokokku yang ke lima. Kuhirup dalam-dalam asapnya hingga sampai ke paru-paruku, lalu menghempaskannya pelan ke udara. Saat asap laknat itu kuhisap, dapat kurasakan langsung efeknya menyerah tubuhku. Mengalir keseluruh pembuluh darah hingga ke ujung-ujung kuku. Terakhir ia akan mengalir ke otak. Saat ia sampai di otak, dapat kurasakan jelas sensasinya. Rasanya seperti pusing namun menenangkan.
Kejadian tadi siang tidak akan mudah kulupakan untuk selamanya. Aku pasti akan terus mengingatnya sepanjang hidupku. Aku dan istriku nisa bertengkar hebat tadi siang. Buntut dari pertengkaran itu adalah perceraian. Ya, pada akhirnya aku menceraikannya juga.
Nisa tadi siang datang sesungguhnya untuk menjengukku. Ia membawakan makanan kesukaanku, dan ia sendiri yang memasaknya. Ia datang hanya berdua dengan anakku, Fatih yang masih berumur delapan bulan. Kedatangannya disini bukan membuat hatiku menjadi senang, melainkan semakin mengiris-iris hatiku. Bagaimana mungkin wanita sebaik dia mempunyai suami seperti aku. Ia terlalu sempurna untuk menjadi seorang istri dari laki-laki yang mengidap penyakit jiwa. Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu.
Tadi siang saat ia sedang memberikan makan Fatih. Aku hanya menatapnya. Sudah lama aku merencanakan untuk menceraikannya dan memberikan padanya kesempatan untuk dapat mencari lagi laki-laki yang lebih baik dari aku. Jika seandainya ia bertemu aku dulu dalam keadaanku yang seperti sekarang ini, ia pasti tidak akan mau menerima lamaranku. Aku payah, aku yang jauh dari Allah, aku yang tenggelam dalam maksiat, aku yang akrab dengan rokok dan alkohol, aku yang berpenyakit jiwa, tidak akan mungkin membuat hatinya dapat mencintaiku.
Aku jauh dari sosok suami yang ideal baginya. Aku akan malu sama Fatih kelak jika ia mengetahui bahwa ayahnya berpenyakit jiwa. Setelah hatiku mantap, akhirnya kukatakan padanya maksud dari keinginanku itu. Dengan tanpa ragu kuucapkan talak satuku padanya.
Mendengar apa yang aku katakan, nisa terperanjat. Piring dan sendok makan Fatih terlepas dan jatuh dari tangannya. Ia pun mempertanyakan apa maksud dari perkataanku itu. Pelan-pelan kujelaskan padanya mengapa aku memilih untuk menceraikannya. Sesungguhnya ini untuk kebaikannya juga. Tapi Nisa justru malah menolak.
Selama beberapa menit kami larut dalam perdebatan. Sekalipun ia mengatakan bahwa ia tidak pernah mempermasalahkan keadaanku saat ini, tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Aku tetap merasa hal ini tidak adil baginya. Aku harus memberinya kebebasan untuk mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik dariku.
Kalimat talak telah terucap, dan aku mengucapkannya dalam keadaan sadar. Dan tekadku pun telah bulat, aku harus mengembalikan ia pada ibunya di Makassar. Mengenai Fatih, aku telah ikhlas memberikan kuasaku padanya untuk merawat hingga ia besar. Sungguh aku terpaksa mengambil keputusan ini karena aku tau, aku akan masih lama berada di tempat rehabilitasi ini.
Pertengkaran kami di akhiri dengan tangisan Nisa. Nisa terisak dan sangat menyesalkan keputusanku itu. Ia, Khairatun Nisa, sesuai dengan namanya, benar-benar wanita yang baik. Ia tidak marah dengan keputusanku ini, ia hanya menangis tersendu-sedu. Dia mengatakan masih tidak ikhlas dengan keputusanku, ia tidak bisa menerima alasannya. Sekalipun begitu, namun aku tau bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Karena keputusan talak ada pada suami.
Masih dalam keadaan menangis, akhirnya kutinggalkan mereka berdua di meja tamu ini. Sebelum aku benar-benar pergi dari mereka, kusempatkan diri mencium kening nisa dan kening Fatih. Kukatakan kalimat terakhirku padanya, ”maafkan aku, kembalilah kamu pada Ibumu”. Setelah itu aku pun pergi menuju kamarku. Masih terngiang di kepalaku tangisan Nisa dan Fatih di siang itu. ”maafkan aku Nisa”bathinku.
Note :
Alloanamnesis : adalah anamnesis silang yang disampaikan keluarga atau orang terdekat dari si pasien. Metode ini digunakan untuk pasien-pasien dengan gangguan jiwa. Sebab pada umumnya, pasien tersebut mengganggap bahwa apa yang dialaminya adalah sesuatu yang nyata. Padahal seseungguhnya gejala tersebut mungkin berupa halusinasi, ilusi, atau delusi.






