Bagian Keduapuluh Delapan

TALAK

 

Ayahku meninggal hari jumat pagi jam empat lewat lima puluh lima di usianya yang masih muda, lima puluh tujuh tahun. Dan setelah ayah meninggal, hari-hariku menjadi semakin buruk. Aku menyalahkan diriku sendiri atas meninggalnya ayah. Dua hari setelah ayah di kuburkan aku pergi meninggalkan rumah. Tak kupedulikan bagaimana istriku dan keluargaku mencemaskan kepergianku.  Tak kuperdulikan semua nasihat yang mereka sampaikan padaku bahwa takdir adalah ketentuan Allah. Kepergianku hanya punya satu tujuan, aku ingin menyendiri. Dan aku sengaja tidak membawa handponeku, agar aku tidak dihubungi.

 

Aku menyesal mengapa aku terlambat selesai menjadi dokter. Aku menyesal mengapa aku tak mampu menyembuhkan ayahku, padahal aku juga seorang dokter. Mengapa waktu itu tidak aku terima saja tawaran pak Dimas. Ah, aku menyesal betapa tak bergunanya aku. Padahal ayah menginginkanku menjadi dokter agar aku dapat mengobatinya. Aku sengaja mengambil pendidikan dokter adalah untuk dirinya. Lalu jika sekarang ayah sudah tiada, buat apa lagi aku menjadi dokter. Aku menyesal, sungguh aku menyesal, betapa tak bergunanya diriku.

 

Kuratapi diriku dikesendirian ini sambil menangis, aku belum bisa menerima kepergian ayahku yang tiba-tiba. Belum ada baktiku padanya. Aku yang dulu hanya bisa membuatnya repot sebagai anak. Aku yang bersikeras memutuskan untuk menempuh pendidikan dokter di Makassar hingga jauh darinya. Padahal aku bisa saja mengambilnya di pulau jawa.

 

Ayah yang begitu sabar mendidik prilakuku yang seringkali kasar padanya. Ayah yang menjadi sosok pahlawanku. Ayah yang begitu tegar mencari nafkah. Ia habiskan masa hidupnya mencari nafkah agar bisa melihat aku tumbuh menjadi laki-laki yang berguna. Ayah yang selalu berpesan agar aku tidak menjadi seperti dirinya. Ia adalah ayah yang ingin melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang sempurna pendidikannya hingga ke jenjang kuliahan.

 

Ah, ayahhh.. kenapa engkau begitu cepat pergi meninggalkan aku. Tidak bisakah ayah menunggu sebentar hingga aku benar-benar telah selesai dan segera pulang ke rumah. Tidak bisakah ayah menunggu??ah,, Ayahhh..

 

Tak terasa derai air mataku mengalir deras. Aku disini duduk mendekapkan kedua lututku di bawah pohon besar ini. Ternyata tanpa sadar ku melangkahkan kaki, aku sudah berada di puncak bogor. Aku duduk sendiri di perkebunan teh ini, di daerah gunung mas. Kutatap langit senja kemerahan diatas kota bogor ini. Disini sepi, hanya ada suara kelelawar sore yang kegirangan menyambut malam.

 

Disaat perenunganku yang cukup lama itu, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggungku dari arah belakang. Aku menoleh ke arahnya, yang ternyata pak Dimas. Entah kenapa aku seperti pernah mengalami kejadian persis seperti ini, namun aku tidak tau dimana. Saat pak Dimas muncul, kali ini aku tidak kaget sama sekali. Karena sejak ayah meninggal, ia sudah muncul tiga kali. Pertama saat ayah dimandikan, ia berdiri mematung memperhatikan kami. Kedua saat ayah dimakamkan, ia juga berdiri mematung di pojokan area pekuburan. Ketiga saat aku sedang membeli tiket kereta di station kota saat hendak ke bogor. Kulihat ia mengikuti langkahku, tapi tak kupedulikan ia, dan akupun tetap melangkah menuju ruang tunggu.

 

Kini sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya di kehidupanku. Aku sudah pasrah menerima kenyataan bahwa ia adalah temanku. Ia yang selalu mendampingiku disaat aku sedang sendiri. Dan kini aku telah hanyut dalam perkataannya bahwa Tuhan tidak adil padaku. Ia berkata, ’sebagaimana Tuhan telah mengecewakan dirimu, maka apa lagi yang kamu harap dariNya?’. Maka seketika akupun tenggelam ke dalam arus deras pelampiasan seorang hamba. Setelah itu, Ia membimbingku ke jalan yang belum pernah aku lalui sebelumnya. Jalan yang dulu aku begitu membencinya, namun kali ini aku terpaksa, atau kalo bisa dikatakan sebagai sebuah kebutuhan, maka akupun melaluinya.

 

-o-

Sudah tiga bulan aku meninggalkan rumah. Tanpa menitipkan kabar sedikitpun. Akupun tidak tau bagaimana keadaan istriku nisa. Bagaimana kesehatannya, kehamilannya, aku juga tidak tau apa ia masih di Jakarta atau jangan-jangan sudah kembali ke Makassar.

Dalam rentan tiga bulan itu, hidupku menjadi kelam. Aku hidup menjadi seorang laki-laki yang akrab dengan rokok dan alkohol. Tak kupedulikan penampilanku yang kini compang camping. Rambut dan jenggot yang lebat kini menjadi penampilan khas diriku. Aku tak pernah mempedulikan apa yang dikatakan orang-orang pada diriku. Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan pak Dimas. Bahwa dulu ia juga pernah seperti ini saat ia kehilangan anaknya, Rahmah. Dan katanya setelah ia melampiaskan semua kepedihannya, perasaannya menjadi plong dan merasa bahagia. Dimas Setiawan menjadi satu2nya temanku kini. Tidak ada satupun manusia yang mau mendekatiku.

 

Aku hidup dari jalan ke jalan. Setelah uangku habis, aku sudah tidak tau kemana aku harus pergi jika aku ingin makan. Namun belakangan, ada saja orang baik yang lewat dan melemparkan uangnya padaku. Dari uang-uang itulah aku bertahan hidup. Sekalipun begitu, aku merasa bahagia, karena ada Pak Dimas yang menemaniku. Aku memiliki duniaku sendiri. Aku dan pak Dimas sering tertawa lepas di pinggir jalan. Ada saja topik yang kami bicarakan.

 

Hingga suatu hari, datang dua orang berpakaian seragam mendekatiku. Ia dengan tangan kasarnya menekuk tanganku ke belakang lalu menjatuhkan diriku ke tanah. Aku mencoba melawannya karena aku pikir aku tidak bersalah, kenapa aku tiba-tiba ditangkap dan diperlakukan seenaknya. Namun usahaku sia-sia, tangannya begitu besar dan kasar. Ia begitu kuat menggenggam tanganku. Seandainya saja ia tidak berdua, mungkin aku bisa saja melawannya.

 

Tubuhku yang sudah tidak berdaya kemudian mereka seret ke dalam mobil box yang sudah terbuka tutup belakangnya. Dan aku dimasukkan ke mobil itu. Ternyata di dalam mobil ini terdapat dua orang lagi temannya yang sedari tadi sudah menunggu disini. Kini, aku tak tau akan dibawa kemana diriku ini.

 

Tak berapa lama kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan yang tidak kukenali. Dalam keadaan tangan terikat, aku diseret kembali menuju sebuah ruangan. Mereka memaksaku untuk tidur di sebuah ranjang yang kasurnya sudah tidak tidak empuk lagi. Mereka kemudian membuka ikatanku. Dan kupikir, ini adalah kesempatan untuk kabur.

 

Setelah mereka melepas ikatanku, dengan sigap aku mencoba menerobos tidak kurang tiga orang yang mengelilingiku, aku mencoba lari. Namun sia-sia, tiba-tiba mendarat bogem mentah di kepalaku. Seketika pandanganku berkunang-kunang. Dalam keadaan seperti itu, seseorang mendekat mengenakan pakaian berwarna putih menusukan jarum ke pantatku. Setelah itu, aku pingsan tak sadarkan diri.

 

-o-

Setelah aku bangun dari tidur panjangku, yang aku juga tidak tau sudah berapa lama, kuperhatikan sekelilingku. Disini ada tidak kurang delapan orang berpenampilan seperti diriku. Tiga orang diantaranya kulihat tangan dan kakinya dalam keadaan terikat di antara besi-besi kasurnya itu. Aku mencoba bangun, namun sia-sia, ternyata mereka mengikat tangan dan kakiku. Aku tak bisa bergerak.

Salah satu dari mereka kemudian mendatangiku. Kulihat penampilannya sedikit lebih baik dari yang lain. Ia mengenakan kaca mata dan semacam topi pramuka yang sudah kumel. Sepertinya ia orang yang berpendidikan. Dari penampilannya mungkin usianya sekitar tiga puluh tahunan. Orang itu kemudian duduk bersila di lantai di samping kepalaku.

”pak, pak, dimana kita sekarang?”tanyaku padanya.

”ssttt,,jangan terlalu berisik, nanti ketahuan. Kita sedang dalam penyamaran di daerah markas musuh”katanya pelan sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

”maksud anda pak?”

”sebenarnya aku adalah seorang jendral, dan aku sengaja datang kemari untuk ditangkap agar aku dapat mengetahui semua kelemahan-kelemahan musuh”katanya pelan.

”dan kamu, setelah kita keluar dari tempat ini, kamu harus menjadi anak buahku”nadanya terdengar begitu serius. Ia mengatakan hal itu sambil menatap mataku dalam.

Setelah itu kami berdua terdiam. Kulihat orang itu juga hanya menatap langit-langit ruangan ini.

Rasa panasaranku pun muncul, kulihat juga langit-langit yang dilihat orang itu. ”ada apa pak?”

”ssttt,, kau tidak dengar. Pasukanku sedang menyusup di atas langit-langit plapon ruangan ini. Mereka mengendap-ngendap mencari kesempatan untuk menyelamatkan aku”.

Kuperhatikan baik-baik plapon itu, namun aku tidak mendengar suara apapun dari sana. Kutatap lagi orang itu baik-baik, ia masih menengadahkan wajahnya ke atas dan tidak bersuara sedikitpun. Sebegitu seriusnya ia menatap langit-langit hingga air liurnya menetes. ”benarkah apa yang dikatakannya?”pikirku.

Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara decit pintu besi ruangan ini. Lalu masuk dua orang laki-laki mengenakan pakaian putih-putih. Pakaiannya seperti pakaian perawat. Mereka lalu menuju ke arahku.

”Hei Markus, ngapain kamu disini, kembali ke tempat tidurmu!!”kata salah seorang dari mereka. Orang itu lalu memaksa laki-laki yang tadi disampingku yang baru kutau bahwa ternyata bernama markus, untuk berdiri dan langsung menyeretnya kembali ke tempat tidurnya.

Salah seorang lagi kemudian melepaskan ikatanku.

”pak Harun, sudah saatnya pindah ruangan”katanya.

Aku pun hanya terdiam, aku tidak mengerti apa maksud perkataannya. Sambil ia melepaskan ikatanku yang terakhir di kaki, kuberanikan diri bertanya, ”dimana ini sebenarnya pak?”

Orang itu kemudian menatapku, dia menghentikan sejenak pekerjaannya, kemudian berkata ”pak Harun, anda ada di rehabilitasi penyakit kelainan jiwa Rumah Sakit Grogol Jakarta Barat”

”apaaa??”pekikku kaget.

 

-o-

Hari ini genap satu bulan aku berada disini, di Rumah Sakit Jiwa Grogol. Beberapa minggu yang lalu seluruh keluargaku datang kesini menjengukku, termasuk istriku nisa. Saat pertama kali pertemuanku dengannya, aku tak berani menatap wajahnya. Bahkan saat ia  menujukkan padaku seorang bayi kecil nan mungil yang ia bilang bahwa bayi itu adalah anakku, aku tak berani menatapnya. Betapa malunya aku padanya. Dan aku tidak ingin memiliki seorang anak yang mempunyai ayah orang gila. Dan hari ini, rencananya mereka akan menjengukku kembali, termasuk istriku nisa.

 

Aku belum diizinkan dokter untuk keluar dari rumah sakit ini karena katanya, jika penyakitku kambuh, aku masih sering berteriak-teriak. Dan memang aku berteriak jika sosok yang bernama Dimas Setiawan muncul lagi dihadapanku.

 

Dokter yang merawatku bernama dr. Farid, beliau orangnya baik. Ia adalah seorang dokter spesialis kelainan jiwa. Dari dialah aku jadi mengetahui bahwa aku mengidap penyakit yang benama skizofrenia. Ia mendiagnosaku demikian berdasarkan alloanamnesis dari istriku, Nisa. Nisa menceritakan semua yang aku alami pada dokter Farid. Dan dokter mengatakan bahwa Dimas Setiawan adalah sosok halusinasi yang menetap dalam diriku.

 

Dan hingga hari ini, bahkan semalam, aku masih menjumpai Dimas Setiawan. Aku belum bisa benar-benar membuat ia lenyap dari hidupku. Kalaupun aku tidak menatapnya, maka ia hanya bersuara di telingaku. Dan suaranya terdengar begitu keras dan jelas hingga aku tidak bisa tidur. Ia selalu menerorku kapan saja. Dan aku tidak bisa memprediksi kapan ia akan muncul. Terakhir, bisikannya yang begitu mengganggu adalah bahwa ia akan benar2 pergi dari hidupku jika aku mau menceraikan istriku.

 

Sungguh pilihan yang sulit. Aku tidak berani mengatakan hal ini pada dr. Farid, karena pak Dimas mengancamku. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan pergi dariku selamanya jika aku bertindak hal-hal yang bodoh. Termasuk menceritakan hal ini pada dr. Farid. Maka setiap kali aku berhalusinasi, aku selalu berusaha mengusirnya. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Menyuruhnya pergi dari hidupku.

 

-o-

Hari ini, memasuki bulan ketujuh aku berada dalam rehabilitasi. Kini aku sudah ditempatkan di ruangan yang hanya berisi dua orang. Di ruangan ini aku lebih merasa tenang. Sebab jika lebih lama lagi aku berada di ruangan yang kemarin, yang satu ruangan berisi dua belas orang, maka aku bisa tambah stress.

 

Sore ini aku duduk termangu melamun sambil menghisap sepuntung rokok. Kutatap kosong lapangan diluar dari balik jeruji jendela. Ini batang rokokku yang ke lima. Kuhirup dalam-dalam asapnya hingga sampai ke paru-paruku, lalu menghempaskannya pelan ke udara. Saat asap laknat itu kuhisap, dapat kurasakan langsung efeknya menyerah tubuhku. Mengalir keseluruh pembuluh darah hingga ke ujung-ujung kuku. Terakhir ia akan mengalir ke otak. Saat ia sampai di otak, dapat kurasakan jelas sensasinya. Rasanya seperti pusing namun menenangkan.

 

Kejadian tadi siang tidak akan mudah kulupakan untuk selamanya. Aku pasti akan terus mengingatnya sepanjang hidupku. Aku dan istriku nisa bertengkar hebat tadi siang. Buntut dari pertengkaran itu adalah perceraian. Ya, pada akhirnya aku menceraikannya juga.

Nisa tadi siang datang sesungguhnya untuk menjengukku. Ia membawakan makanan kesukaanku, dan ia sendiri yang memasaknya. Ia datang hanya berdua dengan anakku, Fatih yang masih berumur delapan bulan. Kedatangannya disini bukan membuat hatiku menjadi senang, melainkan semakin mengiris-iris hatiku. Bagaimana mungkin wanita sebaik dia mempunyai suami seperti aku. Ia terlalu sempurna untuk menjadi seorang istri dari laki-laki yang mengidap penyakit jiwa. Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu.

 

Tadi siang saat ia sedang memberikan makan Fatih. Aku hanya menatapnya. Sudah lama aku merencanakan untuk menceraikannya dan memberikan padanya kesempatan untuk dapat mencari lagi laki-laki yang lebih baik dari aku. Jika seandainya ia bertemu aku dulu dalam keadaanku yang seperti sekarang ini, ia pasti tidak akan mau menerima lamaranku. Aku payah, aku yang jauh dari Allah, aku yang tenggelam dalam maksiat, aku yang akrab dengan rokok dan alkohol, aku yang berpenyakit jiwa, tidak akan mungkin membuat hatinya dapat mencintaiku.

 

Aku jauh dari sosok suami yang ideal baginya. Aku akan malu sama Fatih kelak jika ia mengetahui bahwa ayahnya berpenyakit jiwa. Setelah hatiku mantap, akhirnya kukatakan padanya maksud dari keinginanku itu. Dengan tanpa ragu kuucapkan talak satuku padanya.

 

Mendengar apa yang aku katakan, nisa terperanjat. Piring dan sendok makan Fatih terlepas dan jatuh dari tangannya. Ia pun mempertanyakan apa maksud dari perkataanku itu. Pelan-pelan kujelaskan padanya mengapa aku memilih untuk menceraikannya. Sesungguhnya ini untuk kebaikannya juga. Tapi Nisa justru malah menolak.

 

Selama beberapa menit kami larut dalam perdebatan. Sekalipun ia mengatakan bahwa ia tidak pernah mempermasalahkan keadaanku saat ini, tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Aku tetap merasa hal ini tidak adil baginya. Aku harus memberinya kebebasan untuk mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik dariku.

 

Kalimat talak telah terucap, dan aku mengucapkannya dalam keadaan sadar. Dan tekadku pun telah bulat, aku harus mengembalikan ia pada ibunya di Makassar. Mengenai Fatih, aku telah ikhlas memberikan kuasaku padanya untuk merawat hingga ia besar. Sungguh aku terpaksa mengambil keputusan ini karena aku tau, aku akan masih lama berada di tempat rehabilitasi ini.

 

Pertengkaran kami di akhiri dengan tangisan Nisa. Nisa terisak dan sangat menyesalkan keputusanku itu. Ia, Khairatun Nisa, sesuai dengan namanya, benar-benar wanita yang baik. Ia tidak marah dengan keputusanku ini, ia hanya menangis tersendu-sedu. Dia mengatakan masih tidak ikhlas dengan keputusanku, ia tidak bisa menerima alasannya. Sekalipun begitu, namun aku tau bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Karena keputusan talak ada pada suami.

 

Masih dalam keadaan menangis, akhirnya kutinggalkan mereka berdua di meja tamu ini. Sebelum aku benar-benar pergi dari mereka, kusempatkan diri mencium kening nisa dan kening Fatih. Kukatakan kalimat terakhirku padanya, ”maafkan aku, kembalilah kamu pada Ibumu”. Setelah itu aku pun pergi menuju kamarku. Masih terngiang di kepalaku tangisan Nisa dan Fatih di siang itu. ”maafkan aku Nisa”bathinku.

 

Note :

Alloanamnesis : adalah anamnesis silang yang disampaikan keluarga atau orang terdekat dari si pasien. Metode ini digunakan untuk pasien-pasien dengan gangguan jiwa. Sebab pada umumnya, pasien tersebut mengganggap bahwa apa yang dialaminya adalah sesuatu yang nyata. Padahal seseungguhnya gejala tersebut mungkin berupa halusinasi, ilusi, atau delusi.

Bagian Keduapuluh Tujuh

Posted: Februari 29, 2012 in novel skizofrenia

Bagian Keduapuluh Tujuh

TAKDIR

 

Setelah istriku menceritakan ciri-ciri ruangan IT center yang ia datangi saat sedang pergi ke kampus bersama temannya, Risma. Maka aku dan istriku memutuskan untuk pergi bersama ke ruangan itu keesokan harinya. Ciri ruangan yang disebutkannya benar-benar sesuai dengan ruangan yang juga aku datangi kemarin sore dan bertemu dengan pak Dimas. Dan aku tidak mungkin mengatakan istriku berbohong seperti apa yang dituduhkan pak Dimas. Sebab biar bagaimanapun, aku lebih jauh mengenal istriku ketimbang mengenal pak Dimas. Jadi bagaimana mungkin aku lebih percaya padanya.

 

Siang itu, aku dikejutkan sebuah fakta, bahwa seseorang yang bernama Dimas Setiawan memang bukan pegawai di IT center itu. Begitupun dengan Rizki dan Sulaiman, mereka benar-benar tidak ada. Lalu siapa mereka sebenarnya?ah, aku tidak tau. Aku tak bisa berpikir. Semua yang aku alami  sungguh tidak masuk akal. Maka setelah kejadian itu, akupun memutuskan untuk membatalkan kepergianku ke Jakarta. Aku kini tidak berniat untuk menemui seseorang yang bernama Dimas Setiawan sampai kapanpun juga.

 

Hingga suatu hari, satu minggu kemudian, tiba-tiba sosok yang aku begitu menghindarinya muncul dihadapanku, Dimas Setiawan. Ya, lagi-lagi dia muncul secara tiba-tiba. Saat aku selesai shalat ashar di masjid kampus.

”hai harun?apa kabar?”sapa orang itu yang ternyata pak Dimas. Awalnya aku tidak mengenalnya karena ia menggunakan jaket kaos berpenutup kepala. Waktu itu sedang hujan gerimis di kota makassar, dan langitpun gelap.

”oh pak Dimas, lama tak jumpa. Ada apa ya pak?saya kira anda sudah di Jakarta?”tanyaku memberanikan diri dan berusaha untuk tidak kelihatan gugup karena tiba-tiba bertemu lagi dengannya.

”ya, saya sudah sempat di Jakarta beberapa hari, sambil menunggu kedatangan seseorang. Tapi orang yang ditunggu tidak datang-datang juga, maka akupun memutuskan untuk menjemputnya kembali disini”nadanya begitu tenang, namun isinya begitu menakutkan.

”maksud anda saya?”

”ya, siapa lagi. Harun kenapa kamu tidak datang ke jakarta?padahal aku menunggumu”kalimatnya tiba-tiba menjadi begitu tegas, pelan, tapi bagiku terdengar menggelegar seperti petir yang menyambar kota ini.

”ma maaf pak, aku tidak bisa. Aku memutuskan untuk mundur”

“mundur?kamu pasti bercanda kan?”

“tidak pak, aku serius, aku benar-benar ingin mundur”

“karena istrimu?”

“bukan, tapi karena anda tidak jujur sama saya”

”maaf harun, saya terpaksa melakukannya”. Astagfirullah, ternyata dia mengakuinya. Untung saat itu aku tidak begitu saja percaya padanya, dan hampir menuduh istriku telah berbohong padaku.

”tapi kenapa?”

”karena saya menginginkan kamu run”. Lho, ada apa ini, apa maksud dari perkataannya.

”pak, tolong, saya benar-benar ingin mundur. Bukankah anda bilang waktu itu, bahwa anda bisa saja mencari orang lain jika aku memilih mundur”

“ya, aku bisa saja mencari orang lain. Asal orang yang sudah menjadi targetku mempunyai alasan yang cukup jelas. Bukan karena dipengaruhi oleh istrinya”

“kukatakan sekali lagi pak, ini murni keputusan saya. Sungguh saya sudah tidak berminat lagi untuk menjadi relawan ke afrika”

”kamu bohong harun”tuduhnya. Aku sempat terdiam. Dan mungkin saja memang dia benar. Tapi bagaimanapun itu aku tidak bisa bekerjasama dengan orang yang meawalinya  dari ketidakjujuran.

”tidak, saya tidak berbohong pak. Tapi ini semua karena saya tau bahwa ternyata anda tidak jujur. Dan saya tidak ingin mengawali sesuatu apapun dari ketidakjujuran”kataku mengelak.

”aku tidak bisa menerima alasanmu harun, kamu harus ikut denganku”kata-katanya mulai memaksa, dan dapat kulihat jelas mimiknya yang geram.

”maaf pak, saya sedang ada urusan, saya tidak bisa berlama-lama disini”kataku mencoba mengakhirinya. Aku lantas pergi ke tempat aku memarkirkan motorku. Kulihat pak Dimas mengikutiku. Diantara rintik hujan ia berkata sambil berteriak, ”harun, kamu tidak bisa menghindar dari saya. Dan saya akan terus mengikutimu, kemanapun kamu pergi. Bahkan jika perlu, istrimu sebagai penggantinya”

Tak kupedulikan apa yang dia katakan, yang  jelas ini semua sudah tidak benar, sudah tidak sesuai lagi dari tujuan awal. Dan aku tidak tau kenapa dia jadi memaksa begini.

 

-o-

Malam hari satu minggu kemudian, kuantar istriku untuk memeriksakan kandungannya yang sudah berusia enam bulan. Alhamdulillah dari hasil pemeriksaan, kandungannya kuat dan janinnya sehat. Aku meminta dokter untuk memberikan keterangan boleh terbang, aku hendak ke Jakarta. Aku ingin memulai hidup baru di kota kelahiranku. Dan semoga aku bisa menghindar dari seseorang yang bernama Dimas Setiawan. Sebab sejak aku bertemu dengannya di masjid kampus sore itu, aku selalu melihat dia berdiri mengawasiku didepan rumah. Tapi setiap kali aku hendak menghampirinya, tiba-tiba dia menghilang. Disisi lain, aku mendapat kabar bahwa ayahku kembali masuk rumah sakit.

 

Malam ini sudah jam setengah dua belas malam, namun aku belum juga tertidur. Kulihat istriku sudah tertidur disampingku. Mungkin ia kelelahan setelah seharian mengemaskan pakaian dan malamnya harus pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan. Entah kenapa sejak tadi jantungku berdebar-debar, aku seperti gelisah. Terlalu banyak pikiran yang berkelebat di kepalaku. Aku mengkhawatirkan keadaan ayahku, juga istriku. Aku jadi teringat kembali kata-kata pak Dimas sore itu. Dia mengancam dengan istriku sebagai ancamannya jika tidak bisa mendapatan aku. Awalnya aku tidak terlalu mempedulikan kata-kata itu, karena bisa saja dia tidak serius, dia pasti bercanda. Tapi setelah aku merasa selalu diawasi belakangan ini, aku jadi khawatir.

 

Keesokan harinya. Perjalanan kami menuju jakarta berjalan lancar. Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada istriku. Dari bandara aku langsung menuju rumah, istirahat sebentar kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah sakit, tempat ayahku di opname. Aku membawa serta istriku kesana.

 

Di rumah sakit aku segera bertemu dengan kak Agus, kak Ratih beserta anaknya, juga kak Ridwan bersama istrinya. Baru kali ini kami semua kumpul bersaudara. Karena selama ini selalu kak Ridwan yang tidak ada karena dia masih bekerja di luar negeri. Dari cerita kak Agus dan kak Ridwan, barulah aku tau kalo ayah kambuh lagi jantungnya. Ayah terkena serangan stroke tiba-tiba, kejadiannya pagi-pagi seusai beliau shalat subuh. Selama ini ayah tidak pernah mengalami serangan yang membuat ayah sampai koma segala , ini pertama kalinya.

 

Ayahku terbaring lemah di ruangan ICU rumah sakit pelabuhan kramat jaya. Ayah terbaring dalam koma. Tubuhnya yang kurus ditambah kabel-kabel yang malang melintang ditubuhnya membuat hatiku makin teriris melihatnya.

 

Dua hari berada di ruangan ICU, keadaan ayah tak kunjung baik. Ayah masih tidak sadarkan diri. Bahkan dokter yang merawatnya mengatakan bahwa keadaannya sudah berat. Padahal ayah sudah menjalani operasi trepanasi kemarin siang. Ah, seandainya aku cepat-cepat lulus dan menjadi dokter, mungkin semuanya tidak akan begini jadinya. Aku terlambat menyadari kalo hipertensinya lah yang menyebabkan keadaannya jadi begini. Padahal aku sudah janji akan menjadi dokter pribadinya kelak. Ayah, maafkan aku. Aku hanya bisa menangis menyesali diri. Diatas tubuhnya yang masih tergolek lemas.

 

Di saat aku sedang merasa dalam kekalauan itu, tiba-tiba sosok yang tidak ingin aku menemuinya, muncul dihadapanku. Padahal aku mengira tidak akan menemuinya disini, Dimas Setiawan. Saat dia muncul secara tiba2, aku langsung terperanjat kaget bukan main.

”ia ayahmu harun?”Kata2nya pelan membuka percakapan kami.

”pa pak Dimas, sejak kapan anda ada disini?bukankan anda seharusnya ada di makassar?lalu tau dari mana kalo saya ada disini?”

”sudah kubilang sebelumnya bukan, bahwa aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi”

”apa yang anda inginkan dari saya sebenarnya?bukannya sudah saya bilang waktu itu, kalo saya sudah tidak berminat lagi untuk pergi ke afrika?lagipula anda juga sudah bisa lihat sendiri, bagaimana mungkin dalam keadaan yang seperti ini saya pergi meninggalkan ayahku?”

”saya mempunyai teman seorang dokter hebat dari luar negeri yang mampu menyembuhkan ayahmu. Saya bisa saja memanggilnya kesini, itupun jika kamu mau. Saya hanya ingin memberikan bantuan padamu harun, hanya itu”tiba2 nadanya berubah. Pak Dimas menawarkan bantuan padaku, sungguh diluar dugaan.

”tidak pak, terima kasih. Saya masih percaya bahwa Allah lah yang maha menyembuhkan. Dan saya masih percaya, dokter disini masih sanggup untuk memberikan terapi yang terbaik buat ayahku. Maaf pak, dan terima kasih atas tawarannya”kataku menolak.

”haha,, seharusnya aku mengenal watakmu dari dulu. Ternyata kau begitu sombong harun”katanya sambil tertawa sinis.

”begini saja harun, saya tidak ingin memaksamu. Keadaan ayahmu ini sudah berat, dan ayahmu membutuhkan paling tidak dua hal. Pertama dokter yang handal dan ahli. Kedua, ayahmu membutuhkan perawatan dengan alat2 yang jauh lebih canggih dari ini semua. Jika kamu merasa membutuhkannya, kamu dapat menemuiku kapan saja. Aku selalu berada di sekitarmu harun”katanya menjelaskan. Sedangkan aku hanya diam sambil memeluk ayahku dan tidak mempedulikannya. Hingga setelah lama aku tidak mengindahkannya, maka iapun menghilang, pergi entah kemana.

 

-o-

Hari ini memasuki hari ke empat ayahku terbaring koma di ruangan ICU. Dan ayah belum sadar juga. Dr. Sabri, spesialis anestesi yang merawat ayahku berkali-kali mengatakan bahwa kami harus tegar dan siap menerima apapun yang akan terjadi, karena keadaannya yang memang sudah berat.

 

Hingga di subuh hari sekitar jam empat pagi, tiba-tiba alarm di monitor yang menghubungkan kabel-kabelnya ke tubuh ayahku berbunyi keras. Ritme jantung ayahku menjadi tidak teratur, pernapasannya menjadi tinggi dan nadi melemah. Aku yang tertidur diluar hanya bisa menyaksikannya dari kaca ruangan tunggu pasien.

Kulihat ayah sedang di resusitasi oleh perawat-perawat, sedangkan dokter terlihat di kepala ayah memberikan pernapasan buatan dengan alatnya. Mereka begitu terlihat sibuk, empat hingga lima orang perawat mengerubungi ayahku. Aku dan mas Ridwan hanya menyaksikannya dari luar, sedangkan mas Agus dan Kak Ratih tadi malam pulang dulu ke rumah, kami bergantian jaga.

 

Sungguh tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya berdiri mematung sambil melihat monitor berharap ada keajaiban, sedangkan mas Ridwan sibuk menghubungi kak Agus. Jantungku berdebar-debar keras, kulafazkan kata ”Allah” berkali-kali di mulutku. Hingga kulihat dokter mengambil senter kecilnya lalu mengarahkan pada mata ayahku, setelah itu ia terdiam lemas. Ia tempelkan stetoskopnya di dada ayahku, namun kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala. Kulihat kembali monitor, ritme jantungnya tinggal garis lurus, bersamaan dengan kedip-kedip lampu alarm menandakan ayah telah tiada.

 

Seketika akupun terjatuh lemas, tak sadarkan diri. Masih sempat kulihat kak Agus datang sambil tertatih, sampai kemudian akhirnya semuanya menjadi gelap. Aku pingsan.

 

note : koment pleasee…

Bagian Keduapuluh Enam

Posted: Februari 23, 2012 in novel skizofrenia

Bagian Keduapuluh Enam

POHON BAOBAB

 

“kak, pokoknya kakak jangan pergi. Apa yang aku khawatirkan selama ini sepertinya benar. Ia bukan orang yang bisa dipercaya kak. Aku sendiri yang tadi bertanya, bahwa tidak ada yang namanya Dimas Setiawan yang bekerja di IT centre fakultas kedokteran. Tolong, kakak harus percaya ma aku”kata nisa berkali-kali menjelaskan bahwa sosok yang bernama pak Dimas itu sungguh mencurigakan. Akupun hanya bisa menghela napas dan menyandarkan tubuhku di kursi tamu yang sederhana ini. Kulihat jam dinding ruang tamu kami, jam empat sore. Kami duduk berdua disini setelah shalat ashar dan bercerita tentang apa yang dialami oleh nisa tadi siang.

 

Nisa, istriku, ternyata tadi siang ia datang ke fakultasku. Awalnya ia tidak ada niat untuk pergi kesana. Tadi siang saat sedang beres-beres di rumah, tiba-tiba Risma, teman lamanya di stiba berkunjung ke rumah. Ia mengajak istriku untuk menemaninya pergi ke perpustakaan fakultas kedokteran. Risma sedang dalam tahap penyusunan skripsi dan kebetulan skripsinya adalah tentang tata bahasa arab yang berkaitan dengan istilah medis. Risma meminta nisa menemaninya karena istriku pernah mengatakan kepadanya bahwa perpus FK terbuka untuk orang luar. Namun mereka tidak bisa meminjam buku tersebut dan hanya boleh membacanya di tempat.

 

Saat Risma yang sedang sibuk mencari-cari bahan referensi untuk penelitiannya itulah nisa pergi ke IT center yang kebetulan satu lantai dengan perpustakaan di lantai tiga. Disitu muncullah rasa penasaran istriku untuk menanyakan latar belakang pak Dimas yang sering kuceritakan padanya.

 

Saat itu betapa terkejutnya istriku ketika orang-orang yang bekerja di IT center itu mengatakan bahwa di tempat kerjanya itu tidak ada yang bernama Dimas Setiawan. Berkali-kali istriku menjelaskan pada salah satu karyawati disana bahwa aku berteman dengan orang yang mengaku bekerja di IT center. Istiku juga menyebutkan ciri-ciri fisik dari Dimas Setiawan sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan padanya. Namun ditempat itu, menurut pengakuan istriku, memang tidak ada yang bernama Dimas Setiawan. Bahkan karyawati itu membantu istriku untuk menanyakan kepada semua karyawan, juga boss mereka guna memastikan bahwa memang tidak ada orang yang dimaksud tersebut.

Mendengar apa yang diceritakan oleh nisa, diriku sempat syok, seperti tidak percaya dengan apa yang diceritakan olehnya. Sebab bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Dan bodohnya lagi, aku memang belum pernah datang ke IT center untuk sekedar memastikan siapa sebenarnya Dimas Setiawan itu.

”dek, kalo memang benar dia tidak bekerja disitu, berarti selama ini dia telah berbohong padaku. Dan kebohongannya itu bisa memastikan kebohongan yang lain. Jangan-jangan dia memang bukan anggota WHO. Astagfirullah,,”kataku menanggapi cerita nisa. Dan aku sebagai suaminya, memang seharusnyalah lebih percaya pada istriku ketimbang orang lain yang tidak jelas identitasnya.

”sebaiknya kakak mengonfirmasi ulang ke pak Dimas mengenai keberangkatan kakak ke jakarta”kata nisa.

”bagaimana aku mengonfirmasinya sedangkan ia tidak pernah memberikan nomor hapenya padaku. Dia hanya menjanjikan sebuah pertemuan di kantor cabang WHO di jakarta”

”ya udah kak kalo begitu, batalkan saja rencana kakak. Aku gak ingin terjadi sesuatu sama kakak”pinta nisa berkaca-kaca.

”tapi ini harus diperjelas dek. Aku gak terima jika ternyata selama ini aku dipermainkan. Aku harus meminta keterangan darinya. Dan kalo memang ternyata ini semua ada modus tindak kriminal, maka aku akan membongkar kasus ini dengan berpura-pura telah hanyut dalam permainannya”

”jangan kak, itu bahaya!bukankah justru seharusnya kita malah menghindar??”

”gak dek, justru aku malah berpikir, jika ini adalah tindak kriminal, maka ini harus di bongkar, agar dia tidak mendapatkan korban baru lagi. Sebab bisa saja dengan modus yang sama, aku ini adalah korbannya yang kesekian”

”ihh,,kak, apa itu gak bahaya”

”bahaya memang. Tapi kita lihat saja nanti, siapa yang lebih pintar. Aku gak terima jika selama ini aku telah di tipu olehnya”kataku bersemangat sekaligus geram. ”kita lihat saja nanti, akan kubongkar semuanya, siapa sebenarnya Dimas Setiawan itu”

”kak, berhati-hatilah.. aku takut”

”gak koq de, insya Allah”kataku meyakinkan.

 

-o-

Sore itu juga, setelah apa yang semua diceritakan oleh istriku, aku langsung pergi ke kampusku. Kulihat jam tanganku saat tiba di parkiran fakultas : jam lima sore. ”semoga masih ada orang”pikirku. Saat tiba di kampus ini, entah kenapa udara begitu terasa dingin. Entah memang hawanya yang dingin, atau jangan-jangan aku merasa ada firasat yang tidak baik. Kulewati beberapa pohon besar di sekitar pintu masuk gedung fakultas. Masih kudengar jelas sayup-sayup suara  tonggeret penghuni pohon-pohon besar itu, mungkin mereka sedang melakukan ritual kawin hingga suaranya begitu nyaring. Di tengah-tengah langkahku, aku berhenti sejenak. Ada yang lain dari kampusku ini. Tidak seperti biasanya, aku merasa, ada kesan angker disini. Padahal hampir tiap hari aku kesini, kenapa aku merasa begitu asing. Kuperhatikan sekelilingku, sepi. Ah, mungkin karena semua mahasiswa telah di kosnya masing-masing, pikirku. kulanjutkan kembali langkahku hingga aku berada di depan pintu tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai-lantainya yang lain.

 

Kunaiki tangga dan langsung menuju ke ruangan IT center di lantai tiga. Saat hendak menaiki tangga terakhir di lantai dua, betapa terkejutnya aku. Tiba-tiba didepanku muncul sosok tegap menggunakan kemeja biru kotak-kotak dan memiliki kumis yang khas, pak Dimas. Ya, dia adalah Dimas Setiawan.

”hai harun,, kenapa kamu belum pulang?”tegurnya.

”astagfirullahal adzim,,”pekikku kaget. ”oh,,iya pak. sa saya ingin menemui bapak”kataku sedikit gugup. Kehadirannya begitu mengejutkan.

”untuk apa??bukankan kita sudah bertemu tadi siang??atau masih ada yang ingin kamu tanyakan padaku?”tanya pak Dimas.

”ehmm,,iya pak ada satu hal ingin saya perjelas”jawabku mantap.

”apa itu harun, silahkan kamu utarakan. Karena aku mau berangkat ke jakarta malam ini”

”apa benar bapak bekerja di IT center?”

”oww,, pertanyaan apa ini?”kata pak Dimas sedikit tertawa. “saya kira yang ingin kamu tanyakan adalah seputar keberangkatan kamu nanti ke afrika. Kenapa justru kamu menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah cukup jelas dan kamu juga sudah mengetahuinya”

“maaf pak, hanya itu pertanyaan saya. Tolong bapak jawab secara jujur”

“hmm,,baiklah.. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa aku bekerja disini, di IT center..”

“Kalo begitu, saya ingin mengenal rekan-rekan kerja bapak”kataku dengan sedikit memotong pembicaraannya.

“ow,,baiklah kalo begitu. Mari kita keatas, kebetulan masih ada beberapa rekanku yang belum pulang”.

 

Kemudian pak Dimas mengajakku naik ke lantai tiga. Kami berdua jalan dalam diam. Semoga dia tidak mencurigai maksud dari kedatanganku, bathinku.

Setelah tiba di depan ruangan IT center. Pak dimas mempersilahkan aku masuk lalu menyuruhku duduk di sofa depan tempat biasa menerima tamu. ”tunggu disini harun, akan kuperkenalkan kamu dengan rekan kerjaku. Mereka akan senang  jika ada tamu yang datang”kata pak Dimas sembari meninggalkanku sendiri di ruangan ini. Sementara pak Dimas memanggil rekannya di dalam, kuperhatikan sekeliling ruangan ini. Dinding ruangan ini berwarna putih polos tanpa motif, ruangan yang cukup aneh untuk kegunaannya sebagai tempat menerima tamu. Namun aku merasa warna putihnya terlihat kusam, hingga kesannya seperti abu-abu. Persis dihadapanku, tergantung didinding sebuah lukisan pohon legenda afrika, pohon baobab. Kuperhatikan baik-baik lukisan itu. Pohon ini lebih dikenal dengan pohon terbalik dengan batangnya yang besar dan daunnya yang sedikit yang hanya terdapat di puncak.

 

Aku pernah melihat lukisan Pohon Akasia Afrika dalam sebuah pameran foto. Waktu itu aku begitu hanyut dalam hayalan. Aku merasa lukisan itu begitu hidup didalam kesendiriannya di tengah padang savana. Dan kini aku mengalaminya lagi, hanyut dalam hayalan.

 

Kuperhatikan kembali lukisan pohon baobab ini, yang dibingkai oleh kayu berwarna kuning berukuran kira-kira 30 x 45 cm. Oh tidak, mungkin ukurannya lebih besar lagi, karena aku merasa lukisan itu menjadi semakin besar.

 

Pohon baobao adalah salah satu pohon fenomenal di Afrika. Usianya bisa mencapai ribuan tahun. Diameter batangnya bisa mencapai lima belas meter dan tingginya mencapai empat puluh lima meter. Banyak kesan mistis ditambatkan pada pohon ini. Bahkan masyarakat jawa mengenal pohon ini dengan sebutan Ki Tambleg dikarenakan kesaktiannya.

 

Kini, lukisan yang ada dihadapanku benar-benar berubah menjadi pemandangan yang luas, tidak lagi terkungkung dalam bingkai. Menjelma menjadi padang savana sebagai latar dan pohon baobab sebagai objek. Dibalik pohon itu, kulihat ada sesosok bayangan orang sedang duduk sendirian sambil mendekap lututnya, sepertinya orang itu sedang bersedih. Akupun berjalan ke arahnya karena penasaran, siapakah dia sebenarnnya, ditengah kesunyian padang ini. Aku terus berjalan hingga aku benar-benar dapat menggapai pundaknya. Setelah aku berada di belakangnya, kusentuh lembut pundaknya dan ingin menyapanya, siapakah kamu. Namun alangkah terkejutnya aku saat ia menolehkan kepalanya dan menatapku dalam. Astagfirullahh,,aku melihat cermin diriku. Orang itu adalah aku!!

 

Betapa kegetnya aku hingga aku terpekur jatuh. Akupun lari menjauh darinya, sekuat tenagaku. Tidak mungkin ada dua orang yang persis sama di dunia ini, dia pasti palsu, aku adalah aku dan dia adalah dia, pekikku. Ditengah kebuntuanku berlari tak tentu arah di padang savana yang luas ini, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyentuh pundakku.

”hai harun, kamu melamun??”kata orang itu, yang ternyata adalah pak Dimas. Setelah ia menegurku, maka seketika bayangan padang savana, pohon baobab yang misterius dan  cermin diriku tiba-tiba menghilang. Dan aku mendapati diriku sedang berdiri mematung di depan lukisan pohon baobab ini.

”oh, astagfirullah..”kataku sambil menghela napas panjang. ”Enggak kok pak, a aku hanya kagum dengan lukisan ini”kataku sebisanya.

”kamu baik-baik saja kan harun?kamu terlihat seperti kelelahan”kata pak Dimas.

”enggak koq pak, aku baik-baik saja”kataku sambil mengusap butiran-butiran keringat di dahiku. Pak Dimas kemudian menuntunku duduk kembali di sofa. Setelah ia merasa keadaanku sudah stabil kembali, ia lalu memperkenalkan dua orang rekannya pada diriku. Akupun menyalami mereka satu persatu. Yang pertama bernama Rizki. Ia bertugas di bagian operator dan yang kedua bernama Sulaiman yang bertugas sebagai Programmer. Kami kemudian berbincang-bincang. Tema yang kami bicarakan lebih banyak seputar rencana keberangkatanku ke Afrika. Saat itu aku lebih banyak diam, hanya banyak mendengarkan sambil sesekali memandangi kembali lukisan yang terpampang di dinding itu.

 

Hari telah mendekati waktu magrib, kamipun mengakhiri perbincangan kami. Rizki dan Sulaiman kemudian memohon pamit sama pak Dimas, dan ia pun mempersilahkannya pergi. Saat aku juga hendak pulang dan mengenakan tasku, tiba-tiba pak Dimas bertanya padaku, ”apa yang sebenarnya terjadi Harun?kenapa sepertinya kamu tidak mempercayai aku?”. Mendengar pertanyaan itu, sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya kalau istriku baru saja kemari tadi siang dan mengatakan bahwa tidak ada yang bernama Dimas Setiawan di tempat ini. Namun aku tak mempunyai alasan untuk menjawab pertanyaannya, karena bisa saja memang istriku salah mendatangi tempat. Tapi apa aku perlu berbohong?, ah sebaiknya aku jujur saja menjawabnya.

Akupun menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi siang oleh istriku. Ia pun mendengarkannya dengan seksama.

”begitulah ceritanya pak, yah, mungkin saja istriku salah mendatangi tempat. Bisa dimaklumi karena dia kan bukan anak kedokteran, tau apa dia tentang seluk beluk kampusku ini”kataku menyimpulkan.

”tidak harun, dia tidak salah tempat!”kata pak Dimas setelah sejak aku cerita dia hanya diam mendengarkan.

”lho, maksudnya pak?”

”yang ia datangi memang ruangan IT centre. Sebab satu-satunya ruangan IT center di Fakultas Kedokteran hanyalah ruangan ini. Tidak mungkin ia salah tempat, karena memang di ujung dari lantai ini adalah ruangan perpustakaan FK. Ruangan ini dengan perpustakaan sama-sama di lantai tiga bukan?”kata pak Dimas. Dan aku hanya terdiam, sebab jika benar apa yang dikatakan oleh pak Dimas, berartii… Ah, tidak mungkin, pasti istriku salah tempat.

”harun, dengar baik-baik.. perjalananmu meniti karier hingga menjadi relawan dunia sudah di depan mata. Dan kesempatan ini hanya akan terbuang sia-sia jika kamu melewatinya begitu saja. Kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Cam kan itu harun!!Dan yang harus kamu lakukan adalah menyingkirkan semua yang akan menghalangi kamu demi tujuan itu. Sekalipun istrimu jika ia hendak menghalanginya”kata pak Dimas yang kudengar nadanya begitu tegas.

”tidak, tidak mungkin pak. istriku tidak pernah berusaha untuk menghalangi karierku. Itu tidak benar. Ia akan mendukung dengan segenap jiwanya demi kepentingan karierku. Jika aku menyukai sesuatu maka pasti ia akan menyukainya juga, begitupun sebaliknya. Jadi bagaimana mungkin ia hendak menghalangiku dengan cara yang tidak patut. Anda salah pak, anda tidak mengenal istriku”

”baiklah harun, baiklah.. Kamu adalah seorang suami yang sangat percaya pada istrinya. Saya sangat menghargai itu. Tapi kejadian tadi siang, lalu dikonfirmasi dengan apa kita alami sekarang, bagaimana cara kamu menjelaskannya?”tanya pak Dimas.

Sekali lagi aku hanya terdiam, aku tidak bisa menjawab pertanyaanya. ”dia pasti salah masuk ruangan pak, dia pasti salah ruangan”kataku berusaha meyakinkan pak Dimas, yang sebenarnya akupun mulai ragu.

”ehmm,, baiklah harun, saya tidak ingin memunculkan konflik di rumah tangga kamu. Saya hanya menawarimu kesempatan karier yang lebih baik. Jika kamu menerimanya, maka saya akan senang. Namun jika kamu menolaknya, maka saya pun tidak ada masalah, sebab saya bisa saja mencari orang lain untuk menggantikan posisi kamu. Namun ada satu hal yang saya tidak terima. Apa yang dikatakan oleh istrimu tentang diriku yang tidak ada dalam daftar karyawan di IT center membuat perasaanku terluka. Seolah-olah saya telah berbohong padamu dengan menyamar sebagai karyawan disini. Tapi kenyataannya kan kamu tau sendiri harun. Dan sekarang telah jelas, siapa sebenarnya yang telah berbohong”kata pak Dimas panjang lebar.

”tidak pak, dia pasti telah salah memasuki ruangan, sehingga mengira tidak ada yang bernama Dimas Setiawan di ruangan itu”kataku membela.

”tapi saya tetap tidak bisa menerimanya harun, kecuali kamu mengonfirmasi kembali sama istrimu, bahwa yang dia masuki memang salah ruangan”

”baiklah pak saya akan menanyakannya kembali pada istriku”

”ya, tolong kamu tanyakan ruangan mana yang telah ia masuki tadi siang. Bisa kan dia menyebutkan ciri2 ruangan itu. Kalau ciri-ciri yang dia sebutkan memang tidak sesuai dengan ruangan ini, berarti dia memang salah masuk ruangan. Tapi jika ciri-ciri yang dia sebutkan itu sesuai dengan keadaan ruangan ini, berarti istrimu telah berbohong”jelas pak Dimas panjang lebar. Dan aku tak mengira akan begini jadinya.

 

-o-

 

Selepas shalat isya, aku dan istriku bersiap makan makam. Lauknya sederhana saja, dan memang aku tidak menuntut istriku untuk bisa masak yang macam-macam. Bagiku, tempe goreng dengan sayur asem dan sambel terasi, itu sudah sangat cukup.

”dek, aku mengalami hal yang tidak baik tadi sore”kataku mengawali pembicaraan, saat nisa mulai membereskan piring-piring sisa makan kami.

”apa yang terjadi tadi sore kak?kakak habis ketemu pak Dimas?”tanya istriku. Iapun kembali duduk di sampingku setelah menumpuk semua piring-piring itu di tempat cucian.

”iya de, aku habis ketemu pak Dimas tadi sore”jawabku. Namun aku tidak ingin mengatakan padanya bahwa tadi sore justru pak Dimas memperkenalkan rekan kerjanya padaku. Suatu hal yang kebalikan dengan apa yang dialami oleh istriku tadi siang.

”lalu apa yang dibicarakan tadi kak?”tanya nisa penasaran.

”dek, apa bener yang kamu datangi tadi siang itu IT center?”tanyaku. Aku menjawabnya dengan pertanyaaan karena aku gak mungkin menceritakan padanya apa yang aku alami tadi sore.

”bener kak, aku gak mungkin salah. Sebelum aku keruangan itu, aku bertanya dulu ma mahasiswi yang ada di perpus, dimana ruangan IT center. Bahkan setelah mendapat keterangan bahwa pak Dimas tidak bekerja disitupun aku bertanya pada karyawati itu, apa ada ruangan IT center yang lain, tapi dia bilang tidak ada”jelas nisa.

“kak, apa yang sebenarnya terjadi?apa yang kakak bicarakan tadi dengan pak Dimas?kak, berhati-hatilah dengannya, jangan sampai kakak terpengaruh yang macam-macam olehnya. Sebagai seorang muslim kata patut waspada bukan?”nisa mulai mengutarakan kembali argumennya. Dia benar-benar tidak mengetahui bahwa aku tadi bertemu dengan pak Dimas. Hhh,, kali ini aku benar-benar bingung.

“dek, bisa kamu jelaskan, bagaimana ciri-ciri ruangan yang kamu datangi tadi siang?”

“ya Allah kak, kakak gak percaya ma aku?”

“bukannya gak percaya dek, tapi,, ah sudahlah, tolong jelaskan saja bagaimana ruangan yang kamu datangi tadi..”kataku sedikit tegas.

“iya iya, baiklah.. mmhh, saat aku pertama kali masuk ruangan itu, aku hanya melihat sofa kulit berwarna coklat dan sebuah meja kayu. Dindingnya berwarna putih polos, dengan satu lukisan terpajang didinding…”

“lukisan apa yang kamu liat de?”kataku memotong.

“mmhh,,lukisan apa yah, aku agak lupa kak”

”ayolah de, coba ingat baik-baik, kamu pasti bisa. Setidaknya, walaupun sekilas, kamu pasti tau itu lukisan apa,,”kataku sedikit memaksa.

”kalo gak salah lukisan sebuah pohon di tengah padang rumput Afrika. Aku gak tau itu pohon apa”jawab nisa. Dan masya Allah,, tiba-tiba jantungku seperti berhenti. Berarti dia memang tidak salah ruangan. Tidak sadar aku bergumam, ”pohon itu bernama pohon baobab!!”.

 

note :

jangan lupa komennya yah, ato paling enggak nge’like’ aja gitu.. hhe.. thanks regards

Bagian Keduapuluh Lima

Posted: Februari 20, 2012 in novel skizofrenia

Bagian Keduapuluh Lima

SEBUAH KEPUTUSAN

 

“kalo saya terserah kakak. Saya tidak ingin menjadi penghalang dari apa yang sudah kakak impikan sejak dulu,,”kata nisa setelah berkali-kali kutanyakan padanya apakah dia tidak keberatan kalo aku pergi ke Afrika.

 

Aku dan Nisa duduk berdua di tempat ini, di teras belakang. Nisa benar-benar istri yang baik, sebaik namanya. Kali ini dia tidak sama sekali keberatan jika aku jadi berangkat ke Afrika dalam waktu yang cukup lama. Dia tidak memikirkan keadaan dirinya yang sedang hamil, justru dia malah memberikanku kesempatan agar peluang ini tidak dilewati sia-sia. Padahal sewaktu aku mau berangkat ke Nabire, tampak jelas dari raut mukanya kalo dia agak keberatan kalo aku pergi ke papua. Tapi kali ini, dia sudah benar-benar ikhlas.

“bukankah kakak sendiri yang mengatakan, kalau memang kita ditakdirkan akan hidup berdua sampai sisa umur kita, maka kita akan bersama selamanya, dan kakak akan kembali menemaniku. Begitukan yang kakak bilang padaku?dan kini, aku benar-benar telah siap menerima apapun yang diputuskan Allah dalam takdirku. Sebab kakak telah mengajariku banyak hal tentang kecintaan kita yang full total hanya kepada Allah semata. Bukankah kecintaan kepada makhluk hanya sesaat dan semu?kata-kata kakak benar-benar telah meresap dalam pikiranku,,”kata nisa menjelaskan alasannya mengenai sikapnya itu.

 

Aku hanya menatapnya dalam-dalam setelah ia mengucapkan hal itu. Sungguh ia benar-benar menjelma menjadi wanita yang aku tidak percaya kalo aku menjadi suaminya. Rasa-rasanya aku tidak pantas memilikinya, ia terlalu sempurna sebagai seorang istri. Yang aku tau dan kebanyakan istri-istri ketika ia sedang hamil, mereka selalu ingin ditemani oleh suaminya. Saat sedang hamil adalah saat-saat yang paling tepat bagi seorang istri ingin dimanja oleh suaminya. Lalu bagaimana ia akan mendapatkan itu semua jika suaminya tidak berada disisinya?.

“kak, kalo kita berpatokan pada umur Rasulullah SAW yang 63 tahun, berarti kira-kira umur umatnya adalah dalam rentan enam puluh tahunan bukan?. Maka, satu ato dua tahun tidaklah sebanding dengan kebersamaan kita nanti insya Allah setelah kakak pulang dari Afrika. Pengalaman yang akan kakak dapatkan dalam dua tahun selama kakak berada disana, tidak akan bisa dibayar dengan apapun jika kakak melewatkannya begitu saja. Jadi sebaiknya jangan pernah pikirkan aku. Aku telah ikhlas dan ridho jika kakak memang mau pergi kesana,,”kata nisa menguatkan. “kak, kalo kita ingin memutuskan sesuatu, jangan setengah-setengah, harus totalitas, tidak boleh ada keragu2an menyelimuti,,”kata nisa kembali.

“iya, itu kan kata-kataku,,”

“hehe,,iya, kan kakak imam aku,,”kata nisa sambil tersenyum. Aku yang menatap wajahnya jadi benar-benar kesengsem. Wajahnya ketika tersenyum lalu mendapatkan pantulan cahaya bulan benar-benar terlihat indah, cantik. Tidak berlebihan jika aku menyebutnya dengan istilah bidadari hatiku.

“cuman ada satu hal yang aku mau tau kak, kalo kakak jadi berangkat, kapan kira-kira waktunnya?apa gak sebaiknya kakak selesaikan dulu bagian terakhir kakak, bagian IKM?”tanya nisa.

“iya, itu juga yang akan aku tanyakan pada pak Dimas besok kalo aku ketemu. Jika memang aku yang harus pergi, aku akan minta persyaratan. Aku mau pergi jika aku sudah selesai bagian terakhirku ini,,”

“iya, sebaiknya memang begitu kak. Aku akan mendukung apapun keputusan kakak, jika kakak menganggap itulah yang terbaik,,”kata nisa menyimpulkan. Sungguh aku tak tau ungkapan apa lagi yang tepat disandangkan pada dirinya. Ucapannya itu benar-benar membuatku penuh haru.

“Niisaa,,” Akupun memeluknya dalam dekapan dadaku. Setelah mengucapkan kata-katanya itu aku benar-benar merinding, tidak percaya aku memiliki istri seperti dia. Kuberikan kehangatanku padanya. Kubelai-belai rambutnya yang selalu harum. Ia juga sangat pandai menjaga kebersihan dirinya, sebab hingga detik ini, aku belum pernah mencium bau badannya. Yang aku cium setiap kali aku memeluknya, ada wangi parfumnya yang khas. Atau minimal bau parfum pewangi setrikaan, karena ia selalu mengganti bajunya dua kali sehari, bahkan pernah sampai tiga kali.

 

Malam itu, kebersamaanku bersama nisa benar-benar terasa panjang. Ia begitu ideal sebagai seorang istri. Sedangkan aku sebagai suaminya?ah,,entahlah. Yang pasti aku berjanji, ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku akan meninggalkannya pergi jauh. Setelah pulang dari afrika nanti, aku akan selalu berada disisinya, aku janji, insya Allah, jika Allah menghendaki demikian.

 

-o-

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulanpun berganti bulan. Dan aku, sedikit demi sedikit telah menyelesaikan skripsiku. Kini, aku rencananya akan membacakan seminar hasil, sesuai dengan harapan dari pembimbingku, baca hasil di minggu ke delapan. Aku sudah menyiapkan semuanya, termasuk semua kemungkinan pertanyaan yang akan muncul.

 

Kuliat jam tanganku, jam sembilan pagi. Rencananya hari ini aku akan membacakan seminar hasil jam sepuluh. Aku masih menunggu disini, di depan ruangan bagian IKM, menunggu dokter pembimbingku datang. Sambil mengisi kekosongan, kubuka laptopku. Entah sekedar membaca kembali bahan skripsiku, atau hanya sekedar aktion agar aku tidak dikatakan banyak menghayal.

 

Ya, akhir-akhir ini, beberapa temanku mengatakan kalo aku banyak menghayal dan terkadang suka bicara sendirian. Bahkan ada diantara mereka yang pernah melihat aku mengobrol tanpa ada lawan bicaranya. Aku hanya bisa membantahnya waktu itu, memangnya aku gila?. Kalau banyak ngelamun memang aku akui, aku belakangan ini sering melakukannya. Sejak pertemuanku dengan pak Dimas, aku jadi banyak berpikir yang macam-macam. Juga berpikir tentang rencana kepergianku ke afrika. Aku sudah benar-benar tidak sabar untuk pergi kesana.

 

Waktu itu, saat pak Dimas menawarkanku untuk berangkat ke afrika sebagai tim medis, aku mengajukan syarat. Aku mau berangkat jika skripsiku sudah selesai, dan aku berjanji akan menyelesaikannya secepat mungkin. Mendengar persyaratan yang aku ajukan, pak Dimas setuju. Dengan catatan aku harus benar-benar tepat waktu menyelesaikan skripsiku. Dan hari ini, tinggal selangkah lagi aku menepati janji itu.

 

Sesaat setelah pertemuanku waktu itu, aku dan pak Dimas hampir dua minggu tidak berkomunikasi lagi. Entahlah, mungkin dia sedang sibuk dengan urusannya di IT center di lantai tiga. Dan akupun tidak punya niat untuk mengunjunginya disana, karena memang aku tidak punya urusan yang berkaitan dengan jaringan internet. Disamping aku juga tidak ingin mengganggu aktifitasnya, siapa tau dia sedang sibuk.

 

Sejak saat itu hingga hari ini, hanya dua kali aku bertemu dengannya. Yang pertama saat aku sedang berurusan dengan birokrasi rektorat. Dan yang kedua saat aku sedang sendirian di danau unhas, selepas shalat dzuhur di masjid kampus. Terkadang aku memang demikian, tiap kali selesai shalat di masjid itu, aku menyempatkan diri duduk sendirian di tepi danau. Kebetulan masjid kampus Unhas berbatasan langsung dengan tepi danau di sebelah utaranya.

 

Pertemuanku yang pertama, tidak banyak yang kami bicarakan. Kami hanya berbincang-bincang seputar penelitianku, metodelogi yang aku gunakan dan bagaimana cara pengambilan sampel datanya. Pak Dimas memberikanku beberapa tips yang harusnya aku lakukan agar data yang diperoleh nanti dapat dengan mudah dikelola. Salah satunya yaitu dengan menggunakan program software SPSS. Sebenarnya program ini sudah lama aku tau. Saat KKN dulu, aku menggunakan program ini untuk membantu mengumpulkan data sehingga lebih mudah mengerjakannya.

 

Pertemuanku yang kedua di tepian danau unhas, aku bicara banyak dengannya. Pak Dimas banyak bercerita tentang keadaan dirinya dan keluarganya. Setelah anaknya, Rahmatul Asri, meninggal, pak Dimas kemudian ikut bergabung di organisasi WHO sebagai relawan. Entah darimana dia mengenal organisasi besar itu. Dan sejak saat itu dia sering meninggalkan rumahnya untuk kemudian pergi ke luar negeri dalam berbagai misi kemanusiaan. Istrinya, tidak pernah menyetujui kariernya di organisasi tersebut. Sebab sejak bergabung dengan organisasi itu, bisa dikatakan dia jarang sekali berada di rumah. Dia lebih aktif diluar sebagai relawan ketimbang berada disisi istrinya. Hingga akhirnya, istrinyapun diceraikannya.

“kenapa ia diceraikan pak?”tanyaku saat itu penasaran.

“karena aku sudah muak dengannya. Ia selalu saja mengekang kebebasanku, memangnya dia pikir  ia siapa bisa melarangku. Aku ini laki-laki merdeka dan aku bisa bebas kemana saja melangkahkan kakiku. Dan kenapa aku harus terikat dengannya??huft, waktu itu kupikir, lebih baik ia kuceraikan saja”cerita pak Dimas panjang lebar. Dari ceritanya, sepertinya dia bukan suami yang baik. Begitu mudahnya ia menceraikan istrinya hanya karena hal sepele begitu. ”Bukankah sebaiknya dibicarakan baik-baik?”pikirku waktu itu, namun aku sama sekali tidak berani mengutarakannya.

 

-o-

”jadi Harun, bisa kamu simpulkan manfaat penelitian kamu ini untuk kami pihak fakultas, untuk mereka pihak sekolah tempat kamu mengambil data, serta bagi dunia kesehatan pada umumnya??”tanya dr. Gunawan. Dia adalah salah satu penguji ujian skripsiku. Pertanyaan itu bagiku adalah seperti sebuah kesimpulan, dan itu artinya ujian meja ini akan segera berakhir setelah kira-kira selama dua jam aku duduk di ruangan ini. Huft,, ujian yang cukup melelahkan.

 

Dan setelah kuuraikan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu, dapat kulihat jelas bagaimana mimiknya, dia tersenyum. Aku cuma bisa berharap, senyum itu adalah senyuman puas yang langsung dibayar dengan kelulusan. Sebab setelah ini, aku akan segera menemui pak Dimas dan langsung berangkat ke afrika.

”baiklah Harun, tidak ada lagi yang perlu aku tanyakan dari penelitian kamu ini, setidaknya, kamu telah melakukan tugas kamu sebagai mahasiswa dengan baik”kata dr. Gunawan menjelaskan.

”setelah ini, tolong kamu simpan copy maupun file referensi serta data skripsi kamu dalam bentuk CD ke ruangan saya,,”kata dr. Gunawan sambil berdiri dan segera berlalu ke luar ruangan.

”iya pak” kataku mengiyakan. Dan,, ”alhamdulillahi Rabbil alaminn, akhirnya tuntas sudah pendidikanku sebagai dokter,,”gumamku dalam hati. Setelah ini akan ada babak baru dalam lembaran hidupku. Perjalanan panjang menuju afrika sudah terbuka lebar di depan mata. Aroma padang sahara, rumput-rumput liar, pohon baobab yang tinggi besar dan melegenda, serta suku-suku asli komunitas afrika sudah terbayang-bayang di depan mata. Ahh,,lamunanku kambuh lagi.

 

Kurapihkan semua berkas-berkasku. Beberapa temanku yang mengikuti proses ujian skripsiku memberikan ucapan selamat, dan aku menyalaminya satu persatu. Ini akan menjadi hari-hari terakhirku disini. Kulangkahkan kakiku keluar ruangan dan segera bergegas menuju lantai tiga tempat pak Dimas berkantor. Aku yakin dia akan senang mendengar kabar gembira ini. Saat aku hendak menuju tangga yang persis berada didepan ruangan gizi, tiba-tiba dari arah ruang patologi klinik, ada seseorang memanggilku.

“harun,,”teriak orang itu yang ternyata adalah pak Dimas. Ya, pak Dimas, dia berdiri tepat di depan ruang kuliah patologi anatomi. Kulihat dia mengenakan jaket kemeja beresleting warna hitam dengan logo WHO warna biru muda di dada sebelah kanan.

“oh, pak Dimas, sejak kapan ada disitu pak??”

”baru saja”kata pak Dimas sembari jalan ke arahku.

”aku juga baru saja mau menemui bapak”kataku

”bagaimana skripsimu?”tanya pak Dimas

”iya pak, alhamdulillah sudah selesai. Aku tinggal menunggu yudisium minggu depan. Saya sudah daftar kemarin. Dan setelah itu, aku sudah benar-benar siap untuk berangkat ke afrika pak”

”oh, baguslah. Selamat!! Kalo begitu harun, saya tunggu kamu minggu depan di jakarta setelah kamu yudisium. Rencananya saya akan berangkat besok. Nanti setelah di jakarta kita akan ketemu di kantor WHO. Saya akan mengurus semua keperluan paspor maupun imigrasi untuk keberangkatan kamu nanti”

”oh iya pak, akan aku usahakan untuk tiba di jakarta minggu depan”

”baiklah, sampai jumpa di jakarta. Apa ada yang ingin kamu tanyakan?”

”Ehmm,,entahlah pak, aku hanya masih tidak percaya dengan semua ini. Ini semua seperti mimpi saja, semudah itukah saya dapat bergabung dengan organisasi ini??entah mengapa aku merasa prosesnya begitu singkat. Tidak ada proses rekrutment. Aku merasa seperti ada yang dipaksakan”

”hahaha,,sudahlah. Pertanyaan itu akan terjawab nanti setelah kamu di jakarta”. Mendengar jawaban itu aku hanya terdiam. Sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang perlu ditanyakan disini.

”jika tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, aku harus pergi sekarang. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan sebelum aku meninggalkan kota ini” lanjut pak dimas sambil tersenyum renyah. Dan lagi aku hanya terdiam.

”assalamualaikum, harun..”

”waalaikumussalam,,”jawabku.

 

-o-

Kuarahkan motorku pulang ke rumah. Tidak seperti biasanya, pertemuanku dengan pak Dimas hari ini tidak banyak yang kami bicarakan. Aku marasa seperti ada yang ganjil dengan pertemuan tadi. Dan sebenarnya mungkin pertemuan-pertemuanku denganya selama ini memang selalu ganjil. Ia dapat muncul secara tiba-tiba dihadapanku, dan selalu ketika aku sedang sendiri. Sampai sekarang aku belum bisa mempercayainya kalau dia adalah ayahnya Rahmah. Anak kecil yang meninggal di tanganku waktu itu. Dan ia, pak Dimas, dengan muka garangnya hendak membalaskan dendam kematian anaknya yang dianggapnya akulah penyebab kematian anaknya.

 

Kalau kupikir-pikir dia yang dulu begitu garang, lantas kini menjadi sahabatku, dan dia sebagai anggota dari organisasi yang aku begitu ingin masuk sebagai anggotanya, sepertinya cerita ini begitu ganjil untuk ukuran manusia normal. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan oleh istriku. Istriku menyuruh aku untuk menanyakan secara detail tentang pak Dimas. Rumahnya, pekerjaannya, teman-teman kerjanya, asal usulnya. Sebab menurut istriku, ceritaku memang ganjil. Dia mengatakan hal itu setiap kali aku menceritakan sosok pak Dimas kepadanya.

”kak, berhati-hatilah. Sebaiknya kakak telusuri baik-baik latar belakangnya. Apa memang benar dia itu anggota WHO. Sekarang ini sedang marak penjualan organ tubuh. Modus awalnya adalah penipuan, lalu menjadi penculikan. Setelah korban diculik, lalu disekap dan dibius. Maka dalam keadaan terbius itulah, si korban dibedah dan diambil organ-organ vital dalam tubuhnya, seperti ginjal, jantung, mata dan organ-organ lain yang bisa di transplantasikan. Organ-organ itu kemudian dijual ke instansi rumah sakit untuk kemudian dijual kembali kepada pasien yang membutuhkan organ donor. Makanya korbannya adalah anak muda yang masih bagus fungsi organnya. Suatu tindak kriminal yang keji. Hal ini patut untuk dicurigai kak, apalagi daerah yang kakak tuju adalah Afrika, cukup jauh dari indonesia”cerita istriku waktu itu.

”Ahh,, astagfirullah, gak mungkin lah seperti itu de. Lagian kenapa kamu bisa berfikir sejauh itu?”

”setelah mendengar cerita kakak, awalnya saya fine-fine aja. Tapi lama kelamaan saya jadi patut curiga, kenapa daerah yang dituju adalah afrika. Dan kenapa dia tidak memberikan kartu namanya ke kakak. Dia hanya memperlihatkannya lalu memnyimpannya kembali. Kenapa bisa dia tiba-tiba berada di makassar dan berasalan sengaja datang ke makassar hanya untuk mencari kakak. Ah, pokoknya filling aku gak enak kak tiap kali kakak menceritakan pak Dimas”papar nisa panjang lebar. Dan waktu itu aku hanya menegurnya, bahwa tidak patut seorang beriman mencurigai saudaranya sendiri, itu su’udzan namanya.

 

Ah,, astagfirullah, kalo memang apa yang dikatakan istriku itu adalah benar. Berarti impianku selama ini hanya sia-sia, dan semoga itu tidak terjadi.

Kusandarkan motorku di halaman rumah. Setelah kukunci stang motor, kuambil kantung plastik titipan istriku yang berisi dua kilo mangga macan, dia lagi ngidam. Dan ketika langkahku sudah berada di depan pintu utama, ternyata pintunya terkunci. Tidak seperti biasanya istriku mengunci rumah. Kuketuk pintu dan kuucapkan salam. Namun pintu tak kunjung terbuka. Ada apa ini, jangan-jangan nisa sedang keluar. Tapi kenapa dia tidak memberitahukan aku kalo ia mau keluar. Kuambil hapeku di kantung celana, kutelusuri di phonebook nomor istriku. Setelah dapat langsung kutelpon nomor itu. Dan, astagfirullah, ternyata tidak aktif. “nisa kamu kemana??”bathinku dalam hati.

 

Kusandarkan tubuhku dan duduk di bawah pohon mangga di halaman rumah. Ah, nisa, kenapa kamu keluar tidak bilang-bilang, kamu pergi kemana sebenarnya. Akupun mencoba merilekskan pikiranku dengan membuka-buka inbox hapeku. Siapa tau ada sms yang belum sempat aku balas. Kubaca satu persatu pesannya, sambil menunggu nisa datang.

 

Setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu, tiba-tiba ada suara motor datang dan berhenti didepan rumah. Kulihat di motor itu ada dua orang perempuan berjilbab besar. Dan salah satu dari orang itu adalah istriku. Ya, istriku, khairatun nisa. Mungkin yang satunya lagi adalah temannya. Kulihat mereka berbincang-bincang sejenak setelah nisa turun. Dan tidak lama setelah itu, temannya itupun pergi meninggalkan nisa.

”lho, kakak, sudah pulang toh, dari tadi disini kak??”tanya nisa keheranan dan kaget melihat aku duduk dibawah pohon mangga.

”iya kira-kira setengah jam yang lalu”jawabku. ”dede dari mana??”tanyaku.

”kak, afwan aku tadi pergi memang gak sempat memberitau kakak. Soalnya aku kira kakak belum pulang jam segini, karena memang biasanya kan kakak pulang agak sore”jawab nisa.

”oh ya udah, lain kali kamu sms kakak ya kalo mau keluar. Memangnya kamu dari mana kah tadi?”tanyaku lagi. Nisa hanya terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Lalu tiba-tiba ia mendekat kearahku dan langsung memeluk tubuhku. Erat sekali pelukannya, hingga kantong plastik mangga yang aku pegang terjatuh.

”kak, tolong, jangan pergi ke afrika!!”rintih nisa dalam pelukanku. ”Ada apa ini??”pikirku penuh tanya.

 

note :

buat kamu2 yang baca cerita ini sampe disini, mohon donk komentarnya, hhe… yaahh,,setidaknya sbg respon bahwa kalian mengikuti ceritanya, shg sy jg makin bersemangat untuk menuntaskan dan menerbitkannya, gittuuu… mohon ya temanss, thankyou.. :)

Bagian Keduapuluh Empat

Posted: Februari 17, 2012 in novel skizofrenia

Bagian Keduapuluh Empat

MISI KE AFRIKA

 

“dek,,kakak berangkat yah,,”kucium kening nisa. “mmuuach,,”

“nanti pulang jam berapa kak??”tanya nisa.

“Selesai dinas dari puskesmas aku mau ke kampus dulu, aku mau seminar proposal. Nanti setelah selesai pembacaan, aku usahakan langsung pulang ke rumah. Mudah-mudahan aja pembimbingku cepat datang, jadi bisa cepat pulang,,”jelasku. Nisa tersenyum manggut-manggut.

“ya udah aku pergi yah,,”kucium sekali lagi keningnya. “Assalamualaikum,,”kataku pamit.

“wa’alaikumussalam,,”jawab nisa.

 

Hari ini aku memasuki minggu keempat di bagian IKM. Minggu ketiga dan keempat di bagian IKM, kami mempunyai dinas Wajib di puskesmas. Jadi jam dinas kami mengikuti jam dinas Puskesmas. Dan insya Allah rencananya hari ini aku akan melakukan pembacaan seminar judul penelitianku. Sudah kusiapkan semua berkas-berkas yang diperlukan. Aku juga sudah menyiapkan semua perangkat-perangkat sidang. Aku sudah menunjuk teman-temanku siapa-siapa saja yang akan menjadi moderator, pengatur waktu, dan juga MC nya.

 

Kulihat jam tanganku, jam dua siang. Namun dr. Dewi, pembimbingku, belum datang juga. mungkin beliau agak sibuk, karena beliau juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Setelah dua jam menunggu akhirnya dr. Dewi datang juga. Setelah beliau datang, dr. Dewi langsung duduk di Meja sidang dan mempersilahkan aku untuk menyiapkan semuanya.

 

Judul penelitianku, ‘Gambaran Status Gizi Siswa SD Hartako Jaya’. Kubacakan dengan teliti maksud dan tujuan dari penelitianku ini. Slide demi slide pun kutampilkan. Aku membaca baris demi baris dari bahanku, lalu menjelaskan maksudnya. Kuperhatikan sekelilingku, peserta cukup antusias menyimak. Namun tiba-tiba, ada satu hal yang membuatku terhenti sejenak disela-sela pembacaan seminar judulku. Adalah karena aku melihat ada pak Dimas duduk di pojok ruangan. Dia duduk sendirian di kursi itu. “ngapain dia disini??”tanyaku dalam hati. Ini kali yang ketiga aku melihat sosoknya yang menurutku begitu misterius.

Pertemuanku yang kedua adalah saat dimana aku sedang makan siang di kantin fakultas. Waktu itu aku memang sedang makan sendirian, di meja paling pojok dari kantin, tempat favoritku jika sedang makan sendirian tidak ada teman. Lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba dia muncul dihadapanku. Saat itu aku benar-benar tidak menyadari kedatangannya. Pokoknya, tiba-tiba saja dia muncul dihadapanku.

 

Waktu itu aku mengobrol dengannya tentang banyak hal. Satu hal yang membuatku menganggap bahwa dia istimewa adalah karena pak Dimas mengetahui hampir semua latar belakangku. Dia juga mengetahui apa-apa yang aku alami sebelumnya. Awalnya kupikir dia hanya menebak-nebak saja, tapi lama kelamaan aku jadi berpikir, jangan-jangan dia semacam dukun atau orang sakti yang punya banyak ilmu. Dia tau kalo aku pernah kecelakaan di siwa, dia juga tau kalo aku pernah ke Nabire.

“Run,, kenapa diam, ayo lanjutkan,,”tegur dr. Dewi.

“oh, astagfirullah,,”kataku kaget. Ternyata dari sejak tadi aku hanya melamun di sela-sela pembacaan.

“baiklah,,berikutnya akan saya paparkan metode penelitian yang akan saya gunakan,,bla,bla,bla,,”kataku melanjutkan.

 

Pembacaan seminar judulku tidak terlalu lama, kira-kira hanya satu jam. Tidak banyak yang bertanya menanggapi judul penelitianku ini. Dosen pembimbingku pun tidak mempersulit. Beliau hanya sedikit mengoreksi dan menambahkan. Aku memang sengaja mengambil metode penelitian berbentuk deskriptif, karena memang menurutku lebih mudah. Dan aku yakin, tidak akan ada banyak hal yang bisa dibantah saat pembacaan hasil nanti.

 

Penelitian deskriptif memang terkesan tidak kreatif, karena hanya ingin mengambarkan suatu keadaan tertentu. Tapi aku mengambilnya karena aku tidak ingin pusing dan mengambil penelitian yang berat-berat. Sekarang ini yang aku pikirkan adalah efisiensi waktu, aku harus cepat selesai koas.

 

Setelah selesai pembacaan seminar judul, akupun merapihkan kembali berkas-berkasku. Menyusunnya dan memasukkannya kembali ke dalam mapku. Kulepaskan Flash Disk yang kugunakan tadi dari laptop, setelah sebelumnya ku copy dulu filenya di laptop milik Bagian IKM ini.

Dokter Dewi, pembimbingku, sudah keluar ruangan. Sesaat setelah selesai pembacaan tadi, beliau berpesan, jika aku sudah selesai melakukan pendataan, sesegera mungkin aku membuat laporan lalu menyusunnya. Katanya kalo bisa, aku sudah dapat membacakan seminar hasil di minggu ke delapan. Karena sekitar bulan depan, rencananya beliau akan pergi ke Jepang. Dan mungkin akan lama disana. Jadi sebelum beliau pergi ke Jepang, tugasnya sebagai pembimbing sudah dia tunaikan. Dan hal ini, bagiku adalah suatu tantangan. Insya Allah aku bisa.

 

Sebelum aku kembali ke tempat dudukku semula untuk mengikuti pembacaan berikutnya, kuarahkan pandanganku ke pojok ruangan, tempat dimana pak Dimas duduk. Kupikir dia masih ada disana, namun ternyata dia sudah tidak ada. Pak Dimas bagiku betul-betul sangat misterius. Dia dapat tiba-tiba datang dan pergi begitu saja. Dan yang membuatku heran, kenapa dia ada diruangan ini tadi?apa yang dilakukannya disini?dan kenapa dia bisa ada di ruangan ini?bukankah ruangan ini tertutup untuk umum?hanya koas dan pembimbing bagian IKM yang bisa masuk. Ah, tidak tau lah.

 

-o-

Keesokan harinya, di siang yang terik saat aku sedang berkemas hendak pulang dari dinas di puskesmas…

“run, habis ini kamu mau kemana?mau ke kampus gak?”tanya jufri, teman mingguku di bagian IKM.

“aku mau ke sekolah dulu juf, aku mau ketemu sama kepala sekolah SD Hartako. Rencananya besok aku mau pengambilan data. Kenapa juf?”

“oh gitu, kirain kamu mau ke kampus. Bisa minta tolong gak run?”

“minta tolong apa?”

“arah kamu melewati kampus kan?tolong run, kalo bisa nanti kamu mampir ke kampus, aku mau nitip fotokopian ini buat dikasi ke Rian. Soalnya siang ini aku mau menjenguk tanteku yang lagi dirawat di rumah sakit, arahnya berlawanan dari kampus. Jadi aku minta tolong fotokopian ini sama kamu aja yah,,”kata jufri sambil menyerahkan lembaran-lembaran kertas fotocopian. Aku sendiri tidak tertarik dengan isinya. Ku ambil saja fotocopian itu darinya.

“tapi rian ada di kampus kan??”

“iya dia ada koq, dia juga lagi nunggu pembimbingnya di kampus. Aku udah sms dia,,”

“oke kalo begitu,,”kataku sambil memasukkan kertas itu ke dalam tasku.

“makasih ya run, sebelumnya,,”kata Jufri. “iyalah juf, masama,,”kataku sambil menepuk punggungnya. “salam ma tante kamu, moga cepet sembuh,,”kataku. Jufri hanya tersenyum.

 

Siang itu udara makassar benar-benar terik terasa. Sekalipun aku mengenakan jaket lengkap dengan sarung tangan pelindung, tapi panasnya terasa tembus ke tulang. Dari tempat puskesmasku dinas menuju ke kampus, kira-kira kalau naik motor hanya ditempuh setengah jam. Kemudian dari kampus menuju SD Hartako kira-kira lima belas menit, jadi total perjalananku diatas motor kira-kira empat puluh lima menit. Perjalanan yang cukup panjang juga dengan udara yang begitu panas.

 

Setibanya di kampus, aku langsung menuju ke bagian IKM yang terletak di bagian paling belakang gedung ini. Kulayangkan pandanganku mencari seseorang, rian. Setelah bertemu dengannya, aku tidak ingin berlama-lama di kampus ini, aku harus segera ke sekolah, semoga kepala sekolahnya masih ada.

 

Alhamdulillah, ternyata aku tidak perlu sampai masuk ke ruangan bagian IKM segala untuk menemuinya. Ternyata rian sedang duduk bersama teman-teman koasnya di kursi pelataran di depan ruangan bagian IKM.

Kutepuk punggung rian, “Rian,,koq pada ngumpul disini??lagi gak ada pembacaan yah??”tanyaku langsung tanpa basa basi pada rian. Rian sendiri sedang asik mengotak atik laptopnya.

“oh Harun,,iya sekarang lagi gak ada pembacaan. Kabarnya sih si Danu mau baca hasil nanti jam dua, jadi kita nungguin disini deh. Kenapa run??”

“ohh,,enggak aku Cuma mau ngasi ini, titipan dari Jufri,,”kataku sambil menyerahkan lembaran kertas fotokopian yang tadi diberikan jufri padaku.

“oh,,iya aku kemaren minta tolong ma dia. Trus jufrinya mana??”kata rian sembari mengambil kertas itu dari tanganku. Sekilas kulihat judul paling atas dari kertas itu, ‘catatan kuliah IKM : metodologi penelitian cohort’.

“dia lagi di rumah sakit, jenguk tantenya,,”jawabku singkat. Kulihat jam tanganku, jam setengah satu siang. Aku belum shalat zuhur, belum makan siang pula.

“ya udah rian, aku langsung balik ya,,”

“eh, mau kemana run?buru-buru amat?gak mau ikut pembacaan??”

“enggak lah rian, aku mau ke sekolah dulu, ada yang mau aku temui. Ya udah ya, assalamualaikumm,,”kataku dengan langsung berbalik arah meninggalkannya.

“runn,,makasih ya,,”teriak rian

“yoii,,”jawabku sambil melambaikan tangan.

 

Seperti biasa, jalurku untuk ke parkiran motor paling depan adalah melewati ruang kuliah patologi anatomi di lantai dua. Namun kali ini, entah sengaja atau tidak, aku memilih langsung menuju ke lantai satu melewati tangga yang dekat dengan ruangan IKM ini. Dari situ aku akan melewati ruangan laboratorium anatomi, yang bau formalinnya begitu menyengat hingga ke luar. Jalur ini jalur sepi, jarang ada mahasiswa yang melintas di koridor ini, kecuali kalo ada jam praktikum anatomi. Kupikir, hari ini aku sedang tidak ingin banyak bertemu dengan orang, makanya kulewati jalur ini.

 

Setelah menuruni tangga dan hendak melewati ruangan laboratorium anatomi, tiba-tiba muncul sesosok tubuh dari arah pertigaan yang menghubungkan Fakultas Kedokteran Umum dengan Fakultas Kedokteran Gigi.

“astagfirullah,,pak Dimas,, bikin kaget aja,,”ternyata orang itu adalah pak Dimas, dengan kemejanya yang khas, kemeja biru polos. Satu hal lagi yang aku heran dengan pak Dimas adalah, bajunya tidak pernah berubah sejak aku pertama kali bertemu dengannya, kemeja biru polos. Dia selalu mengenakan kemeja itu. Apa suatu kebetulan setiap kali aku bertemu denganya dia mengenakan kemeja itu, ato kemeja itu semacam seragam kerja?. Ahh,,tidak taulah..

“run,,ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, penting!!”kata pak Dimas dengan raut muka yang begitu serius.

“ada apa ya pak??soal apa??”tanyaku penasaran.

“kami membutuhkan seorang dokter yang siap untuk berangkat ke afrika, dalam misi bakti sosial bidang kesehatan, lebih tepatnya di negara Zimbabwe,,”kata pak Dimas mengawali pembicaraan. “dan kamu satu-satunya dokter yang terpilih untuk pergi ke sana. Karena kamu mempunyai kemampuan lebih dari dokter-dokter yang lain,,”kata pak Dimas menjelaskan.

“maksudnya pak??”

“iya jam terbang baksos kamu kan terbilang tinggi. Sedangkan kami membutuhkan dokter yang profesional dan berpengalaman yang bisa berangkat kesana,,”

“haha,,apa saya gak salah dengar pak??bapak serius soal ini??”

“iya, saya serius run. Nanti kamu akan bergabung dengan tim kesehatan dari WHO, organisasi dunia itu yang akan mengakomodir semuanya,,”

“hah,,apa pak?WHO?”tanyaku. Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Apa gak salah??atau aku yang salah mendengarnya.

“Mmm,,maaf jika bapak tersinggung, tapi terus terang, ada banyak hal yang ganjil setiap kali saya bertemu dengan bapak. Lalu sekarang, bapak bicara tentang organisasi kesehatan dunia, bapak tau dari mana soal hal itu??dan kalo boleh tau, siapa bapak sebenarnya??”tanyaku memberanikan diri.

“ini kartu nama saya,,”kata pak Dimas sambil menyerahkan sebuah kartu kecil berwarna putih. Kuambil kartu nama itu. Tulisan di paling atas kartu itu, World Health Organitation, disamping tulisan itu ada logo WHO. Tulisan di bawahnya, Dimas Setiawan, Head of Recruitment Division of Indonesian. Melihat kartu nama itu aku tak bisa berkata apa-apa, lidahku kaku, seperti tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

 

Sejak semester empat aku kuliah di kedokteran, setelah aku bergabung dengan LSM Syifa, sejak saat itu aku jadi punya impian untuk bergabung dengan organisasi kesehatan dunia ini. Ada keinginanku agar suatu saat, aku bisa pergi ke luar negeri untuk suatu misi bakti sosial, apakah itu di daerah afrika, ataupun daerah konflik. Dan sekarang kesempatan itu ada di depan mata.

 

Negara Zimbabwe sendiri tidak terdengar asing di telingaku. Aku pernah secara tidak sengaja membuka profil negara tersebut di internet, sewaktu iseng sedang mencari artikel tentang penyebaran suku bugis-makassar di Afrika Selatan. Zimbabwe adalah sebuah negara di afrika bagian selatan dan berbatasan langsung dengan Negara Afrika selatan di bagian selatannya. Merupakan negara dengan perekonomian yang paling buruk di dunia. Inflasi di negeri ini terus meningkat hingga 2,2 juta persen, suatu angka yang fantastis, menyebabkan negara ini sebagai negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia.

 

Mengenai kondisi kesehatan di negara ini, juga merupakan negara dengan tingkat kesehatan terendah di dunia. Angka harapan hidup orang-orang Zimbabwe hanya sampai umur 44 tahun bagi pria dan 43 tahun bagi wanita. Angka harapan hidup yang rendah ini lebih disebabkan karena tingginya angka kesakitan HIV/AIDS. Belum lagi jika kita melihat tingginya angka kematian ibu dan bayi, menjadikan negara ini sebagai negara dengan tingkat kesehatan terburuk di dunia.

Namun, buruknya kondisi kesehatan negara tersebut tidak diimbangi dengan fasilitas kesehatan yang memadai, tapi justru malah sebaliknya. Buruknya keadaan politik dan ekonomi negara tersebut menyebabkan tiga dari empat rumah sakit besar ditutup. Keadaan yang demikian buruk ini menyebabkan para dokter dan ahli medik melakukan migrasi besar-besaran. Maka semakin lengkaplah penderitaan masyarakat Zimbabwe.

 

Setelah membaca artikel itulah, aku jadi berkeinginan untuk berangkat ke Zimbabwe sebagai relawan. Namun saat itu, tidak ada satupun LSM kesehatan yang melihat realitas keadaan ini. kalopun ada, biaya dari LSM tersebut terbatas untuk memberangkatkan relawannya.

“sebenarnya tujuan saya datang ke Fakultas Kedokteran ini hanya untuk menemui kamu run,,”. Dia kemudian mengambil kartu namanya dari tanganku, “jika kamu tertarik dengan tawaran ini, kabari saya secapatnya, agar segala keperluanya dapat segera diurus,,”

“maaf pak, jika aku jadi berangkat, berapa lama kira-kira aku berada disana??”

“proyek ini proyek tahunan run, jadi mungkin satu atau dua tahun kamu akan berada disana,,”

“Hmm,,gimana yach, terus terang saya sangat tertarik dengan tawaran ini pak, hanya saja istriku sekarang sedang hamil,,”

“itulah sebenarnya yang paling aku kawatirkan dengan kamu, istrimu akan jadi penghalang demi misi yang tidak sembarang orang punya kesempatan untuk mendapatkannya. Peluang ini kesempatan langka, belum tentu kamu akan mendapatkannya lagi jika kamu menolaknya sekarang. Dan saya berharap kamu tidak akan menolaknya,,”

“hehe,,gak koq pak, insya Allah. Aku akan bicara sama istriku nanti malam,,”

“baiklah kalo begitu, saya tunggu kabar darimu secepatnya,,”kata pak Dimas mengakhiri pertemuan kami. “saya pamit run, assalamualaikum,,”. Pak Dimas pun pergi meninggalkanku sendirian di tempat ini.

 

Sebenarnya ada beberapa hal yang ganjil bagiku setelah bertemu dengan pak Dimas. Pertama, pernyataannya yang bagiku terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin dia bekerja di fakultas kedokteran hanya sekedar untuk menemui aku?memangnya dia seorang mata-mata?lalu buat apa dia hingga melakukan hal yang seperti itu?menurutku itu berlebihan. Kedua, mengenai statusnya sebagai kepala divisi rekrutmen WHO untuk indonesia. Terus terang aku masih belum percaya, apakan memang benar demikian?. Ketiga, biar bagaimanapun, sosoknya begitu misterius. Dia dapat muncul dan pergi begitu saja secara tiba-tiba.

 

Tapi bagaimana pun ganjilnya itu semua, yang jelas, aku benar-benar tertarik dengan tawarannya. Sebab sudah sejak lama aku menginginkan agar aku dapat mengambil peran sebagai tim medis relawan di WHO. Sungguh suatu kesempatan yang begitu langka menurutku.

“aku akan bicara dengan nisa nanti malam, dan semoga ia tidak keberatan dengan ini semua,,”pikirku dalam hati.

Bagian Keduapuluh Tiga

Posted: Februari 14, 2012 in novel skizofrenia

Bagian Keduapuluh Tiga

YANG TAK DIDUGA

 

Hari ini hari senin. Sudah hampir dua jam aku menunggu disini, di depan ruangan bagian IKK/IKM alias Ilmu Kesehatan Kerja dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Ini adalah bagian terakhirku di koas. Setelah bagian ini, insya Allah aku sudah layak untuk disebut sebagai dokter dan dapat berpraktek sebagai dokter umum. Bagian IKM adalah salah satu dari bagian-bagian besar di tingkat dua. Yaitu selain bagian Bedah, Obgyn, dan bagian Forensik. Bagian IKM dijalani dengan masa dinas wajib selama dua belas minggu, dimana minggu dua belas adalah minggu ujian. Di bagian ini pula, mahasiswa kedokteran menyelesaikan skripsi. Judul dari penelitian di bagian inilah yang nantinya akan ditulis di buku wisuda. Hari ini aku akan menghadap ketua bagian bersama dengan empat orang temanku yang lain.

 

Setelah dua jam setengah kami menunggu, akhirnya dokter Rosvita datang juga. dr. rosvita adalah ketua bagian IKK/IKM. Setelah melapor, kamipun dibagikan sebuah logbook, sebagai buku kontrol kami selama berada di bagian IKM ini.

 

Hari ini setelah melapor, kami langsung diwajibkan untuk mengikuti berbagai kegiatan IKM yang berlangsung. Kami yang minggu pertama, menjadi peserta dari senior-senior minggu kami yang hendak membacakan hasil penelitiannya. Atau juga senior minggu yang sudah masuk minggu ketiga dan hendak mebacakan proposal penelitiannya. Semua kegiatan berlangsung hingga sore hari dan kami yang minggu pertama hanya menjadi pendengar. Apakah mendengarkan pembacaan hasil, pembacaan judul, atau juga hanya mendengar senior minggu yang ujian mempertahankan penelitiannya dihadapan penguji.

 

Sebenarnya hari ini masih ada satu lagi kegiatan pembacaan judul, tapi aku izin pulang cepat. Aku berniat untuk tidak mengikutinya karena aku sudah mengagendakan sore ini akan mengantar nisa ke dokter kandungan guna memeriksakan kehamilannya. Aku sudah janji padanya, jadi terpaksa aku harus izin dulu. Sebenarnya termasuk nekad yang kulakukan ini, mengingat aku masih minggu pertama di hari pertama masuk bagian. Ah,,biarlah, mudah-mudahan saja tidak ketahuan, pikirku.

 

Setelah selesai pembacaan hasil, aku langsung mengemaskan tasku. Bersiap-siap langsung keluar ruangan. Kebetulan dokter pendamping dari temanku yang hendak membacakan judul penelitian belum datang, maka aku punya kesempatan leluasa untuk keluar.

 

Ruangan IKM terletak di lantai dua dan berada di paling ujung gedung Fakultas Kedokteran, bertetangga dengan gedung Fakultas Peternakan. Jadi ketika kita mau ke pintu keluar utama, jaraknya cukup jauh juga.

 

Setelah berhasil keluar ruangan bagian IKM, kupercepat langkahku. Kulihat jam tanganku, jam setengah lima sore. Untungnya aku sudah shalat ashar, tadi saat pembacaan hasil, aku izin keluar untuk shalat ashar. Setelah melewati ruang kuliah Patologi Anatomi, tiba-tiba dari belakang aku merasa ada yang mengikuti. Kupercepat langkahku. Namun semakin cepat langkahku, aku merasa dia malah semakin mendekat.

 

Jam segini kampus sudah mulai sepi sedangkan orang yang mengikutiku semakin dekat kurasa. Dihantui rasa penasaran, aku berhenti dan langsung membalikkan badan. Ternyata tidak ada orang, dan memang tidak ada orang. Padahal tadi aku benar-benar merasa seperti ada yang mengikutiku. “ah, mungkin hanya perasaanku saja kali,,”kataku menghibur diri. Akupun melanjutkan kembali langkahku menuju ke tempat parkiran motor. Namun setelah melewati ruang pertemuan senat, tiba-tiba dari jauh kulihat sesosok tubuh sedang berdiri menghadap ke araku. Dia berdiri di depan mading yang berada di dekat tangga. Penasaran, kudekati orang itu, karena memang arahku juga menuju ke tangga itu.

 

Dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa orang yang berdiri itu adalah orang yang begitu aku kenal. Eh, tidak begitu kenal juga sih sebenarnya. Tapi aku tidak asing dengan wajahnya. Ia adalah ayahnya Rahmah!!. Ya, ayahnya Rahmah, pasien yang meninggal karena kasus DBD dan meninggal di tanganku, lalu ayahnya datang dan hendak melukaiku dan telah melukai satpam rumah sakit. Kejadiannya kira-kira dua tahun yang lalu, dan aku masih ingat persis kejadian itu.

 

Aku lantas berbalik arah menghindarinya. Masih ingat betul aku bagaimana dia dulu mengancamku dan hendak membunuhku. Dengan parang di tangannya yang diacungkan kearahku, membuat trauma membekas yang tidak akan mudah kulupakan.

Kuarahkan langkahku menuju tangga yang dekat dengan mushallah Fakultas, arah yang sebaliknya. Dari situ aku akan langsung keluar melalui koridor lantai satu menuju tempat parkiran dan langsung pulang ke rumah. Setidaknya aku tidak melewati tangga yang di depan itu dan tidak akan bertemu dengan ayahnya rahmah.

 

Setelah sampai di tangga, kulihat kembali ke belakang, memastikan apakah dia mengikutiku atau tidak. Ternyata tidak ada, tidak ada satupun orang, dia tidak mengikutiku. Kususuri anak tangga satu persatu. Setelah melewati anak tangga yang terakhir, tiba-tiba ada yang menepuk punggungku. Kubalikkan badanku kebelakang,, “astagfirullah,,” ayahnya Rahmah, dia ada dihadapanku sekarang!!. Aku mundur beberapa langkah, masih tidak percaya, kenapa tiba2 dia ada dihadapanku sekarang. Diapun maju mendekat ke arahku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Secepat apa langkahnya hingga ia dapat menyusulku begitu, padahal tadi saat masih diatas, aku masih sempat lihat ke belakang dan dia memang tidak ada. Lalu kenapa tiba-tiba dia ada dihadapanku sekarang??Astagfirullah,,pikiranku kalut.

“jangan khawatir, saya tidak akan berbuat yang macam-macam. Kamu yang bernama harun bukan??”kata orang itu tenang. Aku masih tidak dapat berbuat apa-apa. Ingin rasanya aku lari, namun tidak bisa, kakiku seperti beku, kaku tidak bisa digerakkan.

“i, iya, sa, saya harun,, ada apa?a, apa yang anda inginkan dari saya??”tanyaku sedikit terbata-bata.

“saya tidak menginginkan apa-apa koq, saya hanya ingin menjadi teman kamu, itu saja. jadi gak usah gugup begitu,,”kata orang itu berusaha meyakinkan.

“nama saya Dimas,,”kata orang itu memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya, menawarkan jabat tangan.

Kuberanikan diri menjabat tangannya,”saya Harun,,a, anda, ayahnya Rahmah bukan??”tanyaku.

“iya, saya ayahnya Rahmah,,”

“Bapak gak dendam sama saya??bukannya anda yang ingin membunuh saya dulu?saya masih inget betul ketika dulu bapak sendiri yang mengatakan, bahwa nyawa harus dibayar dengan nyawa?”

“iya, itu dulu, tapi kini, saya sudah melupakannya,,”

“lalu,,kenapa anda ada disini, apa yang bapak lakukan disini?”

“saya pegawai IT di lantai tiga, di IT Center. Saya yang mengurus semua masalah jaringan internet di Fakultas ini,,”

“oh begitu,,saya kira bapak sengaja mengikuti saya dan hendak membalaskan dendam anak bapak,,”

“hahaha,,ada ada aja kamu. Gak lah, itu semua sudah terjadi. Nyawa yang sudah pergi tidak akan bisa kembali lagi, buat apa kita membalaskan dendam orang yang sudah pergi??hhh,,bikin masalah baru saja,,”

“Hhh,,,syukurlah kalo begitu. Aku benar-benar khawatir tadi,,”kataku lega. Dan memang aku begitu khawatir, kukira dia akan membunuhku. Dari tampangnya, kalo kuperhatikan, pak Dimas sepertinya orangnya baik. Buktinya aja dia bisa tersenyum bahkan tertawa ketika kukatakan padanya dia ingin balas dendam kepadaku. Mungkin waktu itu, dia sedang mabuk, jadinya telihat menyeramkan.

 

Pak Dimas orangnya tinggi, lebih tinggi dari aku beberapa senti. Dia memiliki kumis yang cukup tebal, namun tidak berjenggot. Kulitnya coklat kehitaman. Rambutnya ikal dipotong pendek, kira-kira hanya dua senti. Matanya bulat, alisnya tebal, hidungnya sedikit mancung, dan giginya terlihat rapi ketika tertawa tadi. Dari tampangnya, sepertinya dia berumur tiga puluh tahunan. Dia mengenakan pakaian kemeja biru polos yang sudah terlihat lusuh. Penampilannya benar-benar berbeda jauh seratus delapan puluh derajat dari yang pernah kulihat dulu.

“kamu mau menjemput istrimu bukan??”tanyanya.

“iya,,bapak tau darimana?”tanyaku penasaran. Padahal aku dengannya baru ketemu hari ini, darimana dia tau kalo aku sudah menikah.

“istrimu sudah menunggumu dirumah, cepatlah kamu pulang. Saya berharap kita bisa ketemu lagi dan kita akan ngobrol-ngobrol banyak hal,,”

“oh, iya, insya Allah pak. Lagi pula beberapa bulan kedepan, aku akan lebih banyak di Fakultas, jadi kita bisa ketemu kapan saja,,”

“oh, baguslah kalo begitu,,”

“ya udah pak, saya duluan kalo begitu, motorku ada di parkiran depan, di parkiran utama,,”kataku sambil menunjuk ke arah parkiran di depan. Namun ketika kubalikkan kembali kepalaku, sungguh mengherankan, pak dimas sudah tidak ada di tempatnya.

“lho, pak,,bapak kemana??pak dimas, pak dimas,,”kulongokkan kepalaku ke atas tangga, kupikir dia sudah naik kembali ke atas ke lantai tiga. Aneh betul pak dimas ini, dia datang secepat kilat dan pergi begitu saja secepat kilat.

-o-

Pertemuanku tadi sore dengan pak Dimas betul-betul membuat jantungku hampir mati berdiri. Bagaimana tidak, orang yang dulu membuat trauma psikis hingga aku berhalusinasi yang macam-macam kini dia muncul dihadapanku, apalagi dengan cara yang tidak biasa. Dia bilang tadi sore hanya ingin berteman, berteman untuk apa?lalu bagaimana caranya hingga ia dapat menyusulku secepat itu?ohh,, mungkin sewaktu aku melihatnya pertama kali lalu aku membalikkan badan hendak menghindarinya, dia menyusulku melalui lantai tiga. Bukankan dia bilang dia bekerja di IT center??yah,,mungkin saja begitu.

“kak, kak,, nama kita udah dipanggil, ayo masuk,,”kata nisa membuyarkan lamunanku.

“oh iya, iya,, ayo masuk,,”kataku sambil beranjak berdiri mendampinginya memasuki ruangan dokter.

 

“usianya kehamilannya sudah masuk di minggu ke sepuluh, berarti masih trimester pertama, masih rentan,,”kata dr. Maisaroh sambil memperlihatkan hasil USG. Beliau dokter spesialis kandungan.

“tapi janinnya sehat kan dok,,”tanyaku penasaran.

“dari hasil USG tadi sih gak terlihat adanya tanda-tanda pendarahan ataupun sejenis Blight Ovum, jadi insya Allah sehat-sehat aja koq,,”

“alhamdulillah,,”kami mengucapkan kalimat itu bersamaan.

“yang terpenting sekarang adalah nutrisinya harus dijaga, sebab adek nisa ini berat badannya terhitung rendah,,”kata dr. Maisaroh menjelaskan.

“oh iya dok, insya Allah,,saya akan memaksanya untuk makan yang banyak, biar berat badannya bertambah,,”kataku sambil menatap nisa.

“bleeek,,”nisa mengejekku. “Bener-benar ni orang, lama-lama aku jitak juga ni kepalanya” hehe,,hayalanku mulai iseng.

“tapi untungnya dek nisa ini orangnya kuat ya, kebanyakan wanita hamil di trimester pertama keluhannya mual muntah, tapi dek nisa tidak,,”

“iya dok, alhamdulillah. Walopun sebenarnya sempet juga sih dok di awal-awal,,”kata nisa.

“ya udah, ini saya resepkan vitamin untuk membantu perkembangan janinnya. Nanti bulan depan balik lagi untuk periksa ya,,”kata dr. Maisaroh sambil menyerahkan selembar kertas resep.

 

Setelah menebus resep yang diberikan dokter, kami pulang berboncengan motor. Langit malam ini begitu cerah. Tempat praktek dokter dari rumah ditempuh kira-kira setengah jam dengan mengendarai motor. Kulihat jam tanganku, jam setengah sembilan malam. Malam ini lumayan dingin. Nisa memelukku erat di belakang. Sesekali kupegang tangan nisa dengan tangan kiriku, dengan tetap tangan kananku memegang gas. Kumainan jari jemarinya, tangannya begitu lembut, begitu hangat. Sekalipun malam ini udaranya dingin, tapi aku merasa hangat bersamanya. “Nisa,, luv u forever,,”ucapku dalam hati.

 

Note :

Blight Ovum : suatu kelainan perkembangan janin. Terlihat sebagai suatu gambaran kantong yang kosong dengan bantuan mesin USG, menandakan bahwa janin tersebut tidak mengalami perkembangan. Wanita hamil yang mengalami Blight Ovum harus menjalani terapi kuretase. Itu artinya kehamilan wanita tersebut mengalami keguguran

Bagian Keduapuluh Dua

Posted: Februari 12, 2012 in novel skizofrenia

Bagian Keduapuluh Dua

BIDADARI HATIKU

 

“Tuan Harun,,” teriak petugas laboratoium yang akan mengambil darahku. Aku sengaja datang pagi-pagi untuk menjalani pemeriksaan khusus deteksi malaria. Disampingku tampak mengantri beberapa orang yang juga akan melakukan pemeriksaan di ruangan ini.

 

Sehari setelah aku tiba di Makassar, aku langsung mengikuti apa yang disarankan dr. Ardi dua hari lalu saat di Papua. Alhamdulillah, kordinator posko mengizinkanku untuk pulang satu minggu lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.

“oke, pak harun, hasilnya diambil besok ya pak”kata petugas laboratorium setelah mengambil darahku untuk dilakukan pemeriksaan. “oh iya, makasih ya bu”kataku. Akupun berjalan pulang menuju rumah. Istriku sudah menunggu disana.

 

Hari ini keadaanku tidak begitu baik. Sejak pulang dari tanah Papua, aku selalu bersin-bersin dan sakit kepala. Padahal aku sudah meminum obat flu dan obat anti malaria. Setelah minum obat flu, memang gejalanya hilang tapi kemudian kambuh lagi. Keadaanku kali ini benar-benar drop. Ini kali pertama aku mengalami drop yang seperti ini. Biasanya kalo daya tahan tubuhku sedang turun, aku hanya butuh istirahat dan makan yang banyak, minum susu, setelah itu tidur malam yang cepat. Maka besok paginya staminaku kembali seperti sediakala. Tapi kali ini sekalipun sudah ditambah dengan obat flu, bersin-bersinnya tidak juga hilang.

“bagaimana hasilnya kak?”Tanya istriku setelah aku sampai di rumah.

“belum de, besok insya Allah”kataku.

“ya udah kak, makan dulu, abis itu langsung istirahat aja. Nih udah aku siapin makanan kesukaan kakak, ikan asin ma sayur asem ditambah sambel lalapan”kata nisa.

“wah, nisa, sungguh beruntung aku punya istri kayak kamu nis,,hehe”kataku.

“hehe,,kakak bisa ajah”kata nisa sambil tersenyum malu.

 

-o-

 

Keesokan harinya..

Kubaca dengan berulang-ulang selembar kertas yang diberikan oleh petugas laboratorium padaku. Judul paling atas dari kertas itu, Analisa Apusan Darah Tepi. Baris berikutnya, hasil : plasmodium vivax, positive. Nilai rujukan, negative. Plasmodium falciparum, positive. Nilai rujukan, negative. Plasmodium malariae, negative. Nilai rujukan, negative. Plasmodium Ovale, negative. Nilai rujukan, negative.

 

“Innalillah,,”batinku dalam hati. Aku betul-betul tidak menyangka, ternyata ada plasmodium falciparum dalam tubuhku. Sebenarnya dr. Ardi dari sejak awal sudah curiga. Sebab dari gejala klinisnya, sudah menggambarkan gejala tersebut. Ditandai dengan munculnya demam yang tidak teratur.  Jika memang hanya malaria tertiana, harusnya demam muncul tiap hari ketiga sejak gejala pertama didapat. Itulah sebabnya dr. Ardi menyarankanku untuk segera mengcross cek setibanya aku di Makassar.

 

Tiingting, tingting,,hape nokia ku berbunyi, ada satu pesan masuk. “kak, afwan baru ngasi kabar, sebenarnya mau aku kasi tau tadi pagi, tapi kakak udah keburu berangkat ke rumah sakit. Alhamdulillah,, aku positif hamil kak..hehe..Gimana hasil labnya?btw, cepet pulang ya kak” pengirim : yayank nisa.

Entahlah, apa yang harus aku ucapkan setelah semua informasi ini kudapat. Alhamdulillah kah?Astagfirullah kah?Subhanallah kah?ato Innalillah,, “Hhh,,ya Allahh,,”hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan. Aku pikir, nisa tidak boleh tau hasil lab ku. Aku tidak ingin dia ikut merasakan apa yang aku rasakan. “Aku harus sembuh, demi nisa dan calon bayiku. Ya, aku harus sembuh” pikirku dalam hati.

 

Selama perjalanan menuju rumah, kepalaku betul-betul terasa nyeri.  Sebenarnya sakit kepala ini sudah kurasakan sejak aku masih di Papua, tapi entah kenapa semakin hari semakin memberat. Sejak tadi pagi aku sudah tidak bersin-bersin lagi, tapi kini aku merasa seperti kedinginan, padahal udara di Makassar sedang panas-panasnya.

 

Sesampainya di rumah, setelah salam, aku langsung menuju kamar. Ku rebahkan tubuhku di kasur dan menyelimutinya dengan sarung. Kepalaku betul-betul sakit, aku juga merasa kedinginan. Aku bahkan tidak sempat ngobrol sejenak dengan istriku. Padahal aku ingin sekali menanyakan padanya tentang kehamilannya yang diluar dugaan. Sempat sekilas kulihat mimik mukanya yang keheranan melihat sikapku yang tidak seperti biasanya.

“ada apa kak?kakak kenapa?”Tanya nisa.

“de, tolong ambilkan selimut. Aku kedinginan,,”kataku pada nisa.

“oh iya kak, tunggu sebentar”nisa langsung mengambil selimut yang ada di lemari.

“gimana kak?”Tanya nisa setelah menutupi tubuhku seluruhnya dengan selimut.

“masih dingin de, aku butuh selimut lagi”kataku sambil menggigil kedinginan. Nisa mengambil kembali selimut yang ada di lemari, kemudian menutupi tubuhku dengan selimut itu.

“tunggu kak, aku buatkan teh hangat dengan jahe” kata nisa sambil beranjak ke dapur. Aku masih sempat melihatnya saat beranjak ke dapur. Dan secara tiba-tiba setelah nisa pergi dari kamar ini, semua penglihatanku menjadi gelap!!. Gelap, aku bahkan tidak dapat melihat cahaya lampu kamar ini. Saat itulah saat aku mulai tertidur panjang, dan tidak tau sampai kapan aku tertidur…

 

-o-

 

“kak, makasih ya udah nemenin aku jalan-jalan, aku bahagiaaa banget,,”kata rahmah sambil tersenyum.

“Hahh,,Rahmah, sejak kapan aku jalan dengannya??”tanyaku dalam hati. “Lho,,rahmah, kamu mau kemana??jangan kesitu, bahaya, kamu bisa jatuh nanti,,”teriakku mencegahnya berjalan ke arah tebing jurang. Entah sejak kapan aku menemaninya disini, di tepi jurang ini. Disini pemandagannya indah, padang rumput menghampar, awan putih menaungi, langitnya pun putih. Diatas rumput ini, tumbuh bunga-bunga kecil berwarna kuning, dengan kupu-kupu yang menghinggapinya dan kemudian terbang membawa sari pati bunga tersebut.

“kak, aku pergi dulu yah,,daahhh,,,”teriak rahmah yang tiba-tiba sudah berada di tepi jurang itu.

“Rahmah,,jangan,,,tunggu kakak,,,”aku berlari menuju ke arahnya untuk mencegahnya melompat ke jurang itu. Tapi terlambat, dia sudah melompat. Kuperhatikan ia dari atas sini terjun bebas ke bawah. Masih kulihat sekilas senyumnya yang manis saat dia terjun. Dia pun menghilang, tidak tau dia jatuh kemana. Lalu tiba-tiba semuanya berubah menjadi putih, lalu berubah lagi menjadi siluet ungu berbentuk lingkaran-lingkaran yang mengecil kemudian lama-lama membesar, lalu berubah lagi menjadi putih, dan tiba-tiba dari belakang ada yang menarik dan menggoyang-goyangkan lenganku. “kak, kakak,,koq ngelamun aja sih,,”. Kubalikkan badanku ke belakang, ternyata rahmah. Tapi kami sudah tidak lagi di atas pemandangan yang tadi. Kini aku tidak tau sedang berada dimana, semuanya putih. “kak, kakak.. kakak udah bangun, bangun kak, udah masuk waktu shubuh,,”. Semua yang tadinya putih tiba-tiba menjadi gelap kembali, aku juga tidak tau kemana perginya rahmah yang tadi mengoyang-goyangkan lenganku. “kak, bangun kak,,”suara itu muncul lagi. Dan,,,”astagfirullah,,”aku terbangun. Ternyata suara yang aku dengar dalam mimpiku tadi adalah suaranya nisa yang membangunkan aku.

“jam berapa ini nis?”tanyaku pada nisa sambil terengah-engah, seolah-olah aku baru saja lari satu lapangan.

“jam setengah lima pagi kak, tadi udah azan shubuh, kita shalat dulu yuk,,”jawab nisa.

 

Aku lalu memenuhi ajakan nisa, dia menarik lenganku dan aku mengikutinya menuju kamar mandi. Setelah berwudhu, kami shalat berjamaah, aku memimpinnya menjadi imam shalat shubuh kami. Selesai shalat, aku memimpinnya berdoa, aku berdoa lama sekali. Bersyukur kepada Allah atas kesembuhanku dari ancaman kematian penyakitku, malaria serebral.

“subhanarobbika robbil izzati amma yasifuun, wa salaamun a’lal mursalin wal hamdulillah hirabbil alamiiin,,alFaatihah”

 

Selesai berdoa, kubalikkan badanku ke belakang, nisa mencium tanganku. Ia kemudian membuka mukenanya, lalu merebahkan dirinya dan menempatkan kepalanya diatas pahaku. Kebelai lembut rambutnya, nisa tersenyum, dia tampak menikmati belaianku ini, ia pun memejamkan matanya. Karaba-raba pipinya, subhanallah ia manis sekali. Kumiankan jari jemariku di dagunya, kuraba juga hidungnya, kuelus bibirnya dengan ibu jariku. Subhanallah,,betapa Allah menciptakan makhluk yang begitu indah. Dan makhluk yang indah itu kini ada di hadapanku. “Nisa aku mencintaimu,,”kubisikkan pelan kalimat itu di telinganya. Nisa hanya terdiam, entah dia tidak mendengarkannya atau mendengarnya tapi tidak hendak menjawabnya.

 

Aku, baru sembuh dari penyakitku, satu minggu yang lalu. Alhamdulillah dokter mengijinkan aku pulang setelah beliau menganggap aku sudah baikan dan bisa berobat jalan. Ya, penyakitku, malaria serebral yang aku derita, hampir saja membunuhku. Untungnya istriku nisa, tanggap terhadap penyakitku. Dia langsung membawaku ke rumah sakit setelah melihat keadaanku yang tidak sadarkan diri, tiga minggu yang lalu. Setelah nisa membawaku ke rumah sakit, dokter langsung memasukkanku ke ruangan perawatan intensif. Kata nisa, selama tiga hari aku koma dan berada di ruangan ICU itu.

 

Hhh,,takdir memang sudah Allah tetapkan waktunya. Jika sekiranya nyawaku sudah ditetapkan berakhir tiga minggu yang lalu, maka tidak akan ada yang bisa menolaknya. Begitupun sebaliknya, ketika takdir berkata bahwa umurku masih tersisa, maka tidak ada yang bisa memaksanya untuk mengakhirinya. Dan Alhamdulillah umurku masih tersisa, dan aku tidak tau sampai kapan ruhku masih melekat di ragaku.

 

Satu hal yang paling aku syukuri adalah karena aku memiliki nisa. Nisa lah orang yang merawat dan menjagaku selama aku berada di ruangan ICU dan selama aku berada di ruangan perawatan. Nisa lah yang menguruskan semua keperluanku, hingga ayah dan ibuku datang, saat itulah saat dia mulai bisa bernapas lega. Ya, wanita yang ada di pangkuanku kini, dialah yang menjadi super hero bagiku, padahal ia sedang hamil. Hhh,,nisa, tidak akan pernah kulupa, saat-saat dia mengurusku. Dia menyuapiku makan, membantuku mengganti baju, membopohku ke kamar mandi. Selama aku berada di rumah sakit, selama itu juga ia sibuk mengurusku. Entah bagaimana aku bisa membalas kebaikannya.

 

Kuperhatikan kembali wajahnya. Matanya masih terpejam, sepertinya Ia tertidur. Masih kubelai-belai rambutnya, lalu kukecup keningnya. “nisa, betapa aku mencintaimu,,”sekali lagi kuucapkan kalimat itu di dekat telinganya. Dan lagi, dia hanya terdiam.

 

Malaria serebral, penyakitku, bukanlah penyakit malaria biasa. Penyebabnya adalah kuman plasmodium, lebih tepatnya plasmodium falsifarum. Ia adalah satu dari empat kuman-kuman penyebab malaria. Dan plasmodium falsifarum adalah kuman yang paling ganas dibandingkan yang lainnya. Jika ia masuk dalam tubuh manusia, oleh perantaraan nyamuk, maka seketika ia langsung dapat menyerang hati dan otak. Penderitanya bisa langsung koma. Dan jika sampai pada fase koma, maka bisa mengantarkan pada kematian. Yang bisa menyelamatkan penderitanya jika sampai koma adalah penanganan yang cepat dan tepat.

“kak,,ini sudah jam berapa??”pertanyaan nisa yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“hah, eh iya, udah terang yah, mungkin sekitar jam enam,,”kataku sambil menengok ke arah jendela.

“aduh,,afwan kak, aku ketiduran tadi,,”

“oh, jadi dari tadi kamu tidur??dasar tuti, tukang tidur,,hehe”

“astagfirullah,,”tiba-tiba nisa bangkit dari pangkuanku. “ya Allah kak, aku lupa, aku belum nyuci piring semalam,,”kata nisa sambil menepak dahinya. “Ya udah kak, aku nyuci piring dulu yah,,”. Nisa kemudian berdiri dan bergegas menuju ke dapur, meninggalkan aku sendirian di kamar.

 

Hhh,,kusandarkan tubuhku di dinding kamar dekat pintu. Ternyata dari sejak tadi subuh sampai pagi jam enam aku hanya ngelamun. Dan nisa, tertidur di pangkuanku. Akupun bangkit dari tempatku bersandar, melipat sejadah, lalu menghampiri nisa di dapur. Kulihat dia sedang mencuci piring. Kebetulan meja kompor dengan bak cucian piring bersambung membentuk huruf L. “aduh,,maaf kak, gara-gara ketiduran tadi, aku jadi lupa nyuci piring”kata nisa setelah melihatku menghampirinya di dapur. Kusandarkan diriku di tiang kusen pintu dapur, pintu yang menghubungkan antara ruang tengah dengan dapur, sambil menatapnya. “Padahal udah aku niatin semalam mau nyuci piring ba’da shubuh, trus abis itu langsung bikin nasi goreng. Soalnya nasi yang semalam lumayan banyak sisanya, Hehe.. Yah, jadi telat deh bikin nasi gorengnya, sabar ya kak,,hehe”kata nisa sambil tersenyum.

 

Mendengar celotehannya aku hanya tersenyum, dalam hati, betapa bahagianya aku memiliki istri seperti dia. Akupun mendekat ke arahnya. Nisa masih tetap sibuk dengan cucian piringnya. Seketika, tubuhku sudah berada di belakangnya. Sepertinya dia enggak ngeh dengan kehadiranku yang sudah persis berada di belakangnya, atau dia pura-pura gak tau. Dengan sigap, kupeluk ia dari belakang. Kupeluk ia erat-erat  dan kusandarkan daguku di bahunya. Kutempelkan pipi kananku dengan pipi kirinya. Kuraba-raba perutnya yang hamil. Nisa terdiam, dia berhenti sejenak dari aktifitasnya, lalu meletakkan piring yang dia pegang, tangannya masih penuh dengan busa.

“dek, aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu,,kakak sayang banget sama dede,,”kataku pelan dengan volume suara berbisik. Sekali lagi dia hanya terdiam, sungguh orang ini penuh dengan misteri.

“kaak,,”nisa mulai bersuara setelah beberapa detik kami sama-sama terdiam. Suaranya begitu lembut terdengar, penuh dengan nada sayang.

“iya dede sayang,,”

“awas,,aku lagi nyuci piring, ntar tangan kakak kena sabun lagi,,”kata nisa membuyarkan suasana.

“Hahh,,dasar nisa, gak bisa diajak romantis ni orang”ketusku dalam hati. Akupun melepaskan pelukanku dari tubuhnya. Sesaat setelah kulepaskan tanganku, tiba-tiba nisa berbalik arah. Dengan cepat, dia sosorkan bibirnya menyentuh bibirku. Hanya sepersekian detik momen itu, dan lembut sekali kurasa. Kemudian nisa kembali membelakangiku dan melanjutkan kembali aktivitasnya. Aku sendiri hanya terbengong-bengong, berdiri mematung. Sungguh tadi itu, suatu kejadian yang teramat sangat langka. Sebab biasanya aku yang melakukannya.

“udah,,jangan bengong aja disitu, mandi gih sana. Katanya mau ke kampus pagi-pagi. Kakak kan mau daftar bagian IKM hari ini,,”kata nisa dengan tanpa menatap wajahku yang penuh dengan bunga-bunga ini.

 

Hhh,,nisa, betapa bahagianya diriku ini. Duhai Rabbi, kekalkanlah hubungan kami ini. hingga kami kembali Engkau pertemukan di JannahNya kelak. Aamiin…